Kamis, Juni 12, 2008

Sweet 1

Ada biru yang bersinar digelapnya hati
Dari dunia maya saat kuberpejam dalam sunyi
Ia malaikat mimpi
Yang menuntun diri
Agar aku tetap tersenyum melewati sulitnya hari

By, Ressa Novita (Ocha)

Selamat Pagi, Kawan!

Puisi By, Ressa Novita (Ocha)

Malam menyipitkan matanya tanda ia lelah terjaga
Sang surya intip dunia seolah dongengkan rembulan biar ia lekas bermimpi

Bintang-bintang menarikan salam perpisahan
Kicauan burung menyambutnya riang seolah tawa

Akupun teranjak dari tidurku
Dan teringat akan dirimu

Lekas ingin hatiku mengucap padamu
Selamat pagi, Kawan!
Selamat menjalani hari tuk meraih mimpi!

Suara Hati

Nyanyian alam lirih terdengar

Iringi desah nafas lalui malam

Kuterkapar di atas peraduan

Jarum jam yang terus berputar

Deru kipas yang terus berpacu

Temaram cahaya lampu

Semua tercipta indah

Selasa, Juni 03, 2008

Daun Mawar

Diriku bagaikan sehelai daun dari tangkai mawar
Yang semula hidup mewah bersama duri dan kelopak nan indah
Kuberpikir untuk terus bersanding bersama indah mawarku
Tapi aku hanya helaian rapuh yang telah terjatuh tanpa sebab
Hendak kubertahan diatas tanah dingin dan lembab
Hanya berharap masih dapat menikmatinya
Dalam ketidaklayakan hidup
Tapi ringannya jiwaku membuat angin berkuasa
Menarikku kuat dalam ketidakberdayaan

Bersama yang tak kuharap kulewati hari
Dengan kecemasan akan akhir yang menakutkan
Karena aku hanya sehelai daun yang terpisah dari tangkai mawar
Rapuh dalam menjalani sisa waktu
Takut jika tiba-tiba panas mentari membakar tubuhku yang telah menua
Takut jika tiba-tiba ku melebur bersama deras sungai

Aku hanya ingin kembali
Berharap Sang Maha turunkan keajaiban
Jika aku harus mati
Aku ingin kembali
Dan terbaring tanpa jiwa
Diatas sinar merahnya yang mewangi

Puisi By, Ressa Novita (Ocha)

Enggan Pergi

Panas jalan setapak membakar mulut penuh bisa
Bebunyian besi reot seiring terik mentari
Membakar sampah nenek tua renta tertatih
Diujung jalan pinggir got, bocah kecil mandi segenbiranya

Lalat-lalat suka cita menginjak bangkai tikus mati
Mawar ungu tersandar lemas dekat peti telor
Sebrang jalan debu-debu sesak menempel dalam ruang hidung
Dari balik jendela kusam, coba kenang situasi ini

Duduk penuh diam berat tinggalkan kenangan ini
Sesaat kobar api paksa ku tuk menghapus semua ini

Puisi By, OP

Kain Kafan Tuk Pohon

Elegi membakar sinergi meski seujung jari
Kain kafan membungkus pohon-pohon rindang
Ditemani asap kenalpot dibelai debu-debu jalan
Seongok topi melingkar diatas kepala enggan beranjak

Batang bambu penuh warna coklat menempel setia dekat kantong saku hijau kebiruan
Tanah mengering,rerumputan meranggas mati tanpa jejak
Serangga menghilang entah kemana
Disudut pojok tertumpuk ribuan bangkai semut megap mati terpanggang panas
Terbaring diantara semut kodok buduk sekarat dipaksa meninggalkan dunia

Batu putih rata tetap maju dan tak mau mengalah
Pohon rindang tak rela ditukar batu putih rata untuk mereka si angkuh
Topi kuning keras, tak henti-henti menghantam tanah merah dengan batu putih rata

Puisi By, OP

Aku Tunggu Di Tepi Anyer !


Aku berdiri tegak di depan meja riasku. Kursi cantik berwarna biru muda yang tergeletak menyertai meja rias ini, aku biarkan kosong tanpa guna. Kutatap wajah putihku yang terlihat segar tanpa dihiasi sedikitpun bercak noda. Lalu kucoba tersenyum.
Yah, inilah aku! Apa ada yang salah?!
Sekilas wajah ini terlihat seperti bukan wajah milik seorang gadis yang ramah. Memang benar. Banyak orang yang berkata dengan sinis untuk air muka yang sebenarnya tidak aku buat-buat. Tapi, Tuhan Maha Pengasih. Aku diberikan satu kelebihan dari wajah tidak ramahku ini. Sebuah popularitas. Dan aku bahagia dengan kelebihan itu.
Aku jadi semakin gemar tersenyum pada semua pria yang menyapaku dengan nakal. Dan dapat kumeyakinkan pada siapa saja yang bertanya padaku, aku menyukai mereka. Apalagi jika diantara mereka ada wajah yang terlihat indah untuk dipandang lebih lama dipadu dengan potongan tubuh yang sempurna. Ehm, aku suka sekali. Dan saat memandang mereka aku akan bergumam dalam hati ‘oh, indahnya hidupku!’. Maka akupun tak akan ragu untuk balik menggoda pria-pria indah itu.
Yah, sekali lagi aku katakan. Inilah aku! Dan bagiku tidak ada yang salah pada diriku!
Tapi saat ini…
“Dreeet…dreeet…dreeet…”
Getar tanpa nada yang keluar dari telepon genggamku seketika membuyarkan lamunanku.
Tak segera kutekan tombol penjawab pada handphone Sony Ericson itu. Aku hanya menatap layarnya yang mengeluarkan cahaya terang dengan inisial nama Sayankku yang tak henti berkedap-kedip. Itu inisial pacarku yang tersimpan di memori handphone. Terkadang aku memanggilnya demikian. Dan itu sebuah kemunafikan yang berpadu dengan kebohongan yang manis.
Tiap kali aku melihat nama kebohongan itu menghiasi layar handphoneku. Aku akan teringat sampai hal-hal terkecil yang tersusun rapi dan mengisi kebohongan itu.
Tanpa pikir panjang aku me-reject panggilan itu. Dan segera menon-aktifkan handphoneku.
Maaf, Geral! Tapi hidup ini cuma panggung sandiwara. Begitu juga hubungan kita selama ini. Aku hanya ingin menampilkan sisi romantis dari drama cinta yang kubuat. Dan tinggal menunggu waktu untuk membuat babak penutupnya. Masalah endingnya bahagia atau tidak, itu tergantung kehendakku sebagai sang penulis naskah yang juga merangkap sebagai sutradara dan pemeran utamanya.
“Tok…Tok…Tok…”
Lagi-lagi ada yang membuyarkan lamunanku.
“Devi… Ada telepon dari Geral!”
Mendengar lanjutan ketokan pintu itu, dengan sigap aku meraih handphoneku yang masih dalam keadaan tak bernyawa (non-aktif) dan memasukkannya kedalam tas ranselku.
Aku menenteng tas ranselku dan bergegas keluar kamar. Tapi bukan untuk menjawab telepon dari Geral.
“Mah, udah nggak ada waktu lagi nich!” teriakku sambil menunjuk kaca jam tangan hitam yang menghiasi pergelangan tangan kananku.
Mendengar jawaban tidak enak dariku, mama terlihat sedikit terkejut. Tapi akhirnya ia mengangguk tanda setuju saat aku mencium pipi kanannya sebagai permohonan doa restu sebelum pergi untuk menuntut ilmu.
Hah, Geral! Sekali lagi maaf ya! Bukannya aku tidak ingin berbicara denganmu, tapi belum saatnya aku kembali membuka tirai panggung sandiwara ini. Aku masih memikirkan adegan selanjutnya yang harus aku mainkan sebagai babak penutup drama cinta ini.
  
“Hei, Dev! Makin cerah aja nih!”
Sapaan seorang mahasiswi membuatku berhenti melangkah dan menyempatkan diri untuk menoleh kearahnya. Sekedar untuk membalas sapaannya dengan senyuman khas ala Devi.
Kampusku pagi ini terlihat lebih ramai. Dan tidak biasanya pemilik suara yang kukenal sudah bertengger manis di depan laboratorium bahasa lantai 4 di jam-jam sepagi ini.
Saat kumenoleh, terlihat 3 orang gadis berpakaian serba modis. Mereka teman-teman sekelasku. Si pemilik suara bernama Fiar, si hitam manis yang selalu ramah terhadap siapapun, tak terkecuali padaku. Disebelahnya berdiri, Reny, gadis yang kecantikannya diakui di seantero kampus namun terkenal dengan mulut pedasnya. Dan yang satu lagi Gemma, satu-satunya gadis di kelasku yang sangat aku sukai namanya, tapi sayang dia salah satu orang yang selalu menatapku dengan pandangan sinis, entah apa alasannya.
“Yo, jelas! Lihat di keningnya kan ada susuk! Jadi dia bisa menggaet puluhan pria sekaligus dengan satu senyumannya. Pasti hidup kamu bahagia sekali ya! Dikelilingi banyak pria! Oh iya, sekarang pacar kamu ada berapa?”
Kata-kata yang dilontarkan Reny seketika merubah mood ku yang semula baik-baik saja. Apalagi ditambah tatapan sinis Gemma yang seolah-olah meng’iya’kan komentar sahabatnya.
Dasar cewek sialan! Kalau aku dilahirkan sebagai ‘Dukun Sunat’. Udah ku sunat tuch lidah yang keliwat kotor! Sayangnya, aku dilahirkan dengan sopan santun yang memadai. Jadi apapun alasannya, aku hanya mampu ‘Tersenyum Manis’ pada cewek yang juga bermulut sangat sangat sangat manis itu.
Ditambah sedikit jawaban yang diucapkan dengan manis juga tentunya.
“Uhm… Aduh, nggak keitung tuch berapa banyak pacarku sekarang! Tapi tenang aja! Aku nggak pernah lupa kok sama kamu! Aku nggak akan tega membiarkanmu ‘Jomblo’ seumur hidup. Jadi kalo aku bosen sama salah satu dari mereka, aku pasti rekomendasiin kamu buat jadi pemilik baru mereka. Fiar, Gemma, kalian juga mau kan? Pokoknya semua kebagian dech! So, jangan sedih ya!”
Setelah insiden ringan tak berarti itu, aku segera melanjutkan langkahku menuju kelas yang pada hari ini akan kupergunakan sebaik-baiknya untuk menuntut ilmu.
“Devi…”
Belum sampai aku ke tempat tujuan, teriakan berat seseorang membuatku berhenti melangkah karena sedikit terkejut. Dia Nuri sahabatku, aku kenal betul tingkahnya yang seringkali memanggil namaku dengan suara yang sengaja diubah supaya mirip dengan suara laki-laki. Dan pastinya dia tak pernah berhasil, karena sejak awal dia berjenis kelamin wanita. Dia mungkin akan berhasil mengelabuiku jika ia juga berinisiatif untuk mengubah jenis kelaminnya.
“Oy, cerah banget hari ini! Lagi seneng ya!” lanjutnya setelah berhasil menyamai langkahku.
“Jangan ngomong yang macem-macem dech! Nanti aku sunat tuch lidah!”
“Apaan sich?! Kok jawabnya kayak gitu! Aku kira Devi yang aku kenal benar-benar manis. Nggak taunya…”
“Eh, nggak! Bukan gitu maksudku. Tadi aku mau ngomong kayak gitu ke mereka, tapi secara aku manis nggak mungkin dong aku ngomong sembarangan ke orang sembarangan. Begitcu…” ralatku sambil mencubit sebelah pipinya, setelah itu aku segera nyelonong masuk ke dalam kelas yang sejak tadi sangat aku nantikan (AC-nya).
“Tadi aku ketemu Geral tuch! Dia kayaknya kebingungan nyariin kamu. Emangnya kamu belum nemuain dia buat ceritain yang sebenarnya tentang…”
“Hush!” aku segera membekap mulut Nuri dengan telapak tanganku. Sebelum ia berhasil menyelesaikan kalimat yang sangat terlarang untuk dikatakan di tempat umum seperti ini. “Aku kan udah bilang, ini rahasia. Kamu kan tau seperti apa imageku di mata anak-anak cewek di kelas ini! Biarkan mereka semua hanya tahu gosip, tapi jangan sampai mereka tahu berita aktual apapun tentangku. Bahaya, bisa-bisa aku hilang kendali dan menyunat lidah mereka satu per satu”
“Okey, lalu apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?”
“Masih aku pikirkan. Aku harus membuat ending yang benar-benar manis untuk hubunganku dan Geral”
“Gila! Kamu pikir semua cowok itu nggak punya perasaan! Hampir satu bulan kamu menghindarinya dan sekarang kamu benar-benar ingin meninggalkannya?!”
“Hush! Jangan keras-keras!”
“Biarin! Biar orang semua tahu kejamnya seorang Devina Ekaputri!” teriaknya marah.
“Nuri, dengar dulu!”
“Apalagi yang harus aku dengar. Seorang Devi yang terkenal sebagai pemikat cowok, sekarang melanjutkan aksinya dengan menjelma sebagai cewek buaya darat”
“Nuri, dengar dulu! Aku nggak pernah bermaksud seperti itu! Aku memang salah telah membohongi Geral. Tapi itu semua kulakukan semata-mata karena aku tidak ingin terus seperti ini. Aku ingin ada seorang pria yang benar-benar mencintaiku dan membuatku berubah menjadi gadis biasa yang tidak lagi disebut sebagai gadis murahan, gadis pemikat, pemakai susuk dan sebagainya. Karena itu aku menerima Geral saat untuk ke 3 kalinya ia mengungkapkan kata yang sama. Aku pikir dia serius menyayangiku. Tapi ternyata nggak. Geral sama seperti pria-pria yang selama ini menggodaku. Dia hanya memandangku dari fisik bukan hati. Dan aku tidak pernah merasa nyaman bersamanya. Aku hanya berusaha bersikap romantis, tapi sebenarnya semua itu hanya kebohongan. Kebohongan yang aku tata dengan rapi sehingga terlihat begitu manis. Hingga waktunya tiba untuk mengungkapkan semua kebohongan itu”
“Karena alasan itu kamu menduakannya?!”
Aku menundukkan kepalaku, sedikit terpukul dengan kata-kata yang diucapkannya. Aku tidak pernah sekalipun berniat untuk menduakannya. Tapi keadaan memaksaku melakukan kejahatan ini.
“Aku tunggu di tepi Anyer malam ini! Karena kamu sahabatku, aku ingin kamu tahu apa yang sebenarnya aku rasakan selama ini. Perasaan yang dirasakan hati kecilku selama aku menjadi seorang Devi yang selalu memikat semua pria dengan senyuman nakalnya”
  
Saat pembicaraan dengan Nuri pagi tadi, tanpa sadar aku telah menetapkan ending yang harus aku jalani. Yah, Anyer adalah setting tempat yang aku pilih untuk satu babak terakhir dari sandiwara ini. Bukankah tempat itu indah. Maka endingnya pun akan terlihat sangat indah.
“Aku tunggu di tepi Anyer malam ini!”
Pesan singkat lewat sms aku kirimkan ke nomor milik Geral. Satu kalimat itu sudah cukup menegaskan suatu perintah, bukan sekedar permohonan. Dan aku yakin dia pasti datang juga Nuri tidak akan menolak perintah itu.
Hari itu masih cukup siang. Tapi aku mulai bersiap-siap untuk berangkat ke panggung sandiwaraku.
Yup! Aku kan tokoh paling penting. Aku juga bertindak sebagai sutradara. Jadi aku harus datang paling awal untuk mempelajari kondisi panggung sekaligus beradaptasi agar adegan yang akan aku lakonkan nanti. Supaya benar-benar sesuai dengan apa yang aku inginkan.
Ah, mungkin penjelasan ini agak sulit dimengerti. Intinya, aku ingin datang lebih dahulu ke tempat indah itu untuk memikirkan masak-masak apa yang akan aku katakan pada mereka. Sekaligus aku ingin menikmati pemandangan pantai dan merasakan sejuknya udara Anyer agar kepenatan ini sedikit berkurang.
Okey! Semangat Devi!
  
Matahari hampir tenggelam saat aku sampai ke tepi pantai Anyer. Satu-satunya yang aku cari setiap kali aku datang ke tempat ini, ya hanya cahaya yang satu itu.
Cahaya redup berwarna oranye berpadu dengan biru pekat air laut, dengan latar belakang langit kelabu yang berhiaskan beberapa bintang senja. Indah. Ciptaan Tuhan yang luar biasa hebatnya. Rasanya tak ingin waktu cepat berlalu. Ingin mengabadikan keindahan itu.
Tapi dalam hitungan menit yang singkat, langit kelabu pun berubah gelap. Rembulan perlahan meninggi dan bintang-bintang terus bertambah. Menjadi kilauan cahaya yang memantul di lautan. Hembusan angin terasa semakin kuat, mendorong ombak semakin mendekati telapak kakiku yang telanjang.
Menguatkan rasa dalam diriku. Dingin. Sepi. Dan semakin ingin lari. Lari dari kenyataan yang sebentar lagi akan mengakhiri sandiwara ini.
Aku menutup kedua belah mataku. Menghirup segarnya udara pantai. Mencoba kembali menenangkan pikiran yang mulai mengeluh tak mampu. Kutatap satu per satu bintang di langit malam. Kunikmati deburan ombak yang berpadu dengan hembusan angin yang terdengar mendayukan irama alam nan lembut.
“Kalau seperti ini rasanya aku ingin meninggalkan Jakarta dan mencari rumah tinggal untuk menetap di Anyer” gumamku pelan.
“Aku juga mau!”
“Nuri…”
“Kenapa harus di tepi Anyer?”
“Karena… aku pertama kali bertemu dengannya disini. Saat LDO Fakultas. Tapi aku nggak pernah tahu namanya. Yang aku tahu dia orang Kepresidenan Mahasiswa di kampus kita. Wajahnya tampan namun terlihat begitu lembut dan senyumannya sangat tulus”
(LDO=Latihan Dasar Organisasi)
“Yah, kamu pernah menyebutnya dalam daftar pria yang menurutmu tampan dan perlu di dekati. Kamu bahkan bertanya namanya padaku. Lalu apa bedanya?! Dia sama seperti Geral. Kamu sama menyukainya seperti rasa sukamu pada Geral. Kamu hanya menyukai ketampanannya!”
“Tidak! Kamu salah! Awalnya aku memang memperlakukannya sama seperti pria-pria tampan yang lain. Aku hanya memuja keindahan wajahnya. Tapi waktu itu aku mulai memperhatikannya ketika aku menyaksikan satu hal yang menurutku sangat ganjil dilakukan pria setampan dia. Aku melihatnya membersihkan lantai di salah satu ruangan kampus”
“Dia membersihkan ruang Kepresidenan, aku pernah melihatnya sekali”
“Yah, mulai saat itu entah kenapa aku terus memperhatikannya. Mataku nggak pernah sekalipun lepas untuk mencari sosoknya. Anehnya apa yang biasa kulakukan terhadap pria-pria tampan yang aku sukai, nggak bisa aku lakukan padanya. Aku nggak punya keberanian secuil pun untuk sekedar berkata ‘hai’ padanya. Aku sendiri nggak tahu! Aku nggak tahu kenapa? Hanya dia pria yang berhasil melumpuhkanku. Dia membuatku nggak bisa berbuat apa-apa. Seharusnya kamu melihat itu, Nuri. Karena kamu seringkali bersamaku. Seharusnya kamu mengerti apa yang aku rasakan. Aku…aku mencintainya…”
“Devi… Kamu bilang apa?!”
“Aku mencintainya, Nuri! Perasaan yang ada hanya karena dan untuknya! Bukan seperti yang kamu lihat selama ini menghiasi hidupku. Bukan kebohongan. Bukan kemunafikan. Hanya aku miliki disini!”
Sambil menunjukkan jari ke dadaku, aku melangkah pelan mendekati Nuri.
Kulihat Nuri tersenyum manis, seolah memberikan komentar yang menggembirakan. Airmatanya jatuh perlahan dan ia menghapusnya dengan telapak tangannya masih dengan disertai senyuman.
“Haha, aku bego banget ya! Ternyata aku selama ini belum bertindak sebagai sahabatmu. Bahkan aku tidak tahu bahwa selama ini si gadis pemikat memendam perasaannya pada seorang pria!” ucapnya sambil tertawa kecil.
Aku balas tertawa.
“Yah, pada seorang Rivan!”
  
“Rivan???” Geral yang saat itu sudah berdiri diantara kami terkejut mendengar nama yang keluar dari bibirku yang telah mengucap yakin.
Kedatangan Nuri yang lebih dulu dari Geral membuatku lebih berani. Yah, cukup berani untuk menyakiti seorang Geral.
“Yah, lengkapnya Rayn Rivanno, kelas sore, tingkat 4”
“Jadi selama ini?!”
Aku mendekati Geral. Sangat dekat. Serasa jiwa nakalku kembali saat melihat wajah tampannya yang cemas.
“Kamu tampan Geral. Manis. Indah. Aku suka sama semua yang terlihat ‘Beauty’ di mataku. Termasuk kamu. Makanya ketika aku merasa mustahil untuk memiliki Rivan dan mulai putus asa, akhirnya aku menerimamu. Cowok tampan yang menurutku ‘boleh juga’ sekedar untuk mengisi kekosongan. Saat aku mulai terbiasa dengan sandiwaraku bersamamu. Tiba-tiba Rivan datang padaku. Dan dengan caranya ia mengisi hari-hariku yang penuh kepalsuan. 3 bulan aku menduakanmu, dan sekarang waktunya aku bicara jujur. Aku hanya menginginkannya. Tidak yang lain! Jadi…”
Geral menatapku tajam. Wajahnya terlihat sangat kesal. Pastinya dia sudah tahu kelanjutan kata-kataku. Tapi kenapa dia masih diam saja?! Apa masih perlu aku melanjutkan kata-kataku?! Huh…
“Jadi, aku ingin mengakhiri sandiwara ini! Sekarang juga!”
  
“Gimana?! Sandiwaraku hebat kan?!” tanyaku sambil merangkul hangat tubuh jangkung Nuri.
Kaki kami melangkah menyusuri tepi Anyer, setelah meninggalkan Geral dan kekesalannya di ujung pantai sana.
“Jadi penjelasan yang kamu berikan pada Geral cuma sandiwara?!”
“Huh, si eNeng lemot! Coba inget-inget, tadi siang aku bicara apa!”
“Apa yah?! Ehm??? Ah, lupakan! Biarlah dia tertelan ombak dan menghilang bersama buih samudera” jawab Nuri tak mau pusing.
“Hei, dia bukan putri duyung!”
“Tapi bukankah dia patah hati seperti kisah putri duyung?!”
“Uhmmm… Hahaha…” tawaku meledak seolah tanpa dosa.
“Eittt…aku lupa belum menanyakan satu hal, hal yang penting banget”
“Apa?”
“Bukankah pacarnya Rivan cewek judes yang namanya Asta?!”
“Dulu. Sekarang Rivan pacarku! Cewek Rivan sekarang ya si manis Devi!”
“Syukurlah! Aku kira sahabatku alih profesi sebagai gadis perusak hubungan sepasang kekasih!”
“Sialan kamu! Aku ini perempuan baik-baik tauuu…”
“Huuu… Dasar… Eh, ngomong-ngomong siapa yang nembak duluan? Rivan atau kamu?”
“Udah aku bilang, aku mati kutu didepan dia. Emang dia yang tiba-tiba deketin aku. Aku sendiri malah bingung kenapa kisahku berbalik seperti ini. Aku pikir selamanya aku tidak akan mengenal Rivan lebih dari tatapan jarak jauh. Tapi ternyata sekarang…”
Aku menatap langit. Bintang-bintang terasa semakin indah untuk dinikmati sinarnya. Seindah perasaanku hari ini.
“Nur, ternyata selain cakep, keren, dia juga baik banget, baik banget… Oh, bagaikan seorang malaikat yang turun dari langit. Thanks to You God…”
“Heh, udah deh… Lama-lama jijik tau nggak liat muka kamu yang kayak gitu!”
Aku tidak memperdulikan protesan Nuri. Aku masih tersenyum bahagia sambil terus menatap keindahan langit dengan lekat.
“Cukup Devi! Aku tinggal nih! Kamu bilang Rivan nunggu kamu di seberang jalan sana! Jalannya cepetan donk! Atau kamu mau membagi Rivan untukku?!”
“Enak aja! Rivan hanya milikku!”
Sekarang dan kuharap juga untuk selamanya.
 The End 
Cerpen By, Ressa Novita (Ocha)

Sebuah Kisah Manis Aku Dan Dia

Puisi By, Ressa Novita (Ocha)
Aku pernah menulis sebuah catatan
Yang mengukir kisah manis aku dan dia
Kutulis apa, kapan dan dimana
Kuungkapkan rasa, senyum dan tawa
Kukatakan kesungguhan hati
Untuk bersama menciptakan akhir yang bahagia
Di dalam sebuah kisah manis aku dan dia

Suatu hari kulihat rembulan ku redup
Menghilang di telan malam
Waktupun terasa begitu panjang
Namun cahaya seribu bintang tak dapat membuatku menemukannya
Dimana?
Mengapa?
Aku tidak mengerti apa yang telah terjadi
Mungkin jarak yang tak pasti kini memisahkan kita

Tapi aku pernah menulis sebuah catatan
Yang mengukir kisah manis aku dan dia
Disana telah kukatakan kesungguhan hati
Telah pula kutuliskan sebuah akhir yang bahagia
Sebagai doa dan harapan untuk selamanya
Karena itu aku menunggu
Aku percaya ini bukan akhir sebuah cinta
Yang telah terjalin indah 3 tahun lamanya

Dan akupun kembali jalani hidupku selayaknya
Tanpa pernah sekalipun berpikir untuk hilangkan rasa yang ada

Namun kenyataannya kini
Kisah manis yang kutulis itu hanyalah catatan
Ketika kudengar ribuan bintang bersaksi
Rembulanku telah mencari bumi yang lain untuk disinari
Dan ia telah bersanding mesra bersamanya

Doa rapuhlah sudah
Harapan tinggal jejak sebuah mimpi
Tanpa pernah kumengerti apa yang telah terjadi
Baru kusadari telah lama kusendiri

Dan kisah manis itu hanyalah catatan
Goresan pena yang mengukir kepalsuan
Awalnya nyata
Tapi akhirnya hanyalah khayalan belaka
Khayalan sang pencinta akan keabadian
Sebuah kisah manis aku dan dia

Sisi-sisi Dunia


Aku berjalan diantara celah-celah kebisingan kota. Ruang sempit dan kumuh dengan dengan kebebasan didalamnya. Tempat dimana kepuasan dan kesenangan telah ditinggikan. Begitu banyak aku melihat. Seolah arena kehidupan ini dimulai tanpa nyanyian Tuhan. Mereka terkekang dalam tangan iblis yang mereka masuki, dengan alasan sebagai balasan atas kemiskinan dan kesengsaraan yang mereka dapatkan selama ini. Dan mereka terkutuk di bawah jahanam kaki iblis yang mereka sembah.
Mereka tidak tahu kapan akhir dari semua ini. Tapi sesungguhnya mereka tahu, inilah jalan yang kelak akan berakhir di lautan api neraka.
Kemudian aku berjalan diantara bangunan-bangunan megah yang mewah. Ruang gemerlap berlapis emas dan permata. Tempat dimana kuasa dan harta telah diutamakan. Begitu banyak aku mendengar. Mereka memuja iblis dibalik nyanyian Tuhan yang mereka senandungkan. Mereka terbuai dalam mimpi-mimpi indah yang mereka buat sendiri. Dan mereka tertawa setiap saat atas kemenangan yang mereka dapat dari kekuatan tangan-tangan kasar mereka.
Mereka tahu dan bisa membedakan antara baik dan buruk. Tapi mereka tidak mau tahu. Baik dan buruk tidaklah berbeda demi kebahagian yang mereka inginkan.
Dan akupun berjalan diperbatasan. Jalan diantara celah-celah kebisingan kota dan bangunan-bangunan megah yang mewah. Disanalah segala kepuasan dan kesenangan serta kuasa dan harta. Terpaksa ditanggalkan. Begitu banyak aku merasakan. Tangisan pedih hamba-hamba yang berdosa, memohon ampun pada Yang Kuasa. Disanalah semua tangan dan kaki iblis melepaskan mereka.
Mereka berdoa menyebut nama Tuhan beribu-ribu kali banyaknya. Dan menyalahkan iblis atas kesesatan mereka selama ini. Namun hanya tersisa sedikit waktu untuk mereka menyesali. Sebelum tiba saatnya untuk mereka, menanggalkan nafas dan jiwa mereka. Sebagai penantian baka yang akan menuntut sebuah pertanggungjawaban, atas gemerlapnya hidup bersimbah dosa yang pernah mereka jalani.
Puisi By, Ressa Novita (Ocha)

Kamis, Mei 15, 2008

Melodi Jiwa

Puisi By, Ressa Novita (Ocha)

Saat pagi aku berdiri di tepi jalan berbatu halus
Menatap keatas angkasa biru
Menikmati oranye yang berseri di ujung sana
Detik yang lalu aku membuka mata
Aku mengeluh dengan airmata
Kenapa aku hidup?

Saat siang aku duduk terpaku, diam
Menyaksikan warna disekitarku
Mendengar suara yang menyatu tanpa irama
Menghirup udara yang tak letih berbagi untuk ribuan jiwa
Ketika aku mulai mengucap kata
Aku terbuka dengan hampa
Apa seperti ini hidupku?

Saat sore aku melangkah
Menelusuri tepi pantai berpasir putih
Aku menatap angkasa yang tak lagi biru
Mencari oranye yang hampir pulas tertidur senja
Bersama buai nyanyian ombak dan belaian angin
Lalu aku berteriak melepas penat hatiku
Aku tersenyum dengan bangga
Ya, inilah hidupku!

Saat malam tiba aku merebahkan tubuhku
Diatas tanah berumput yang dingin
Lagi-lagi aku menatap angkasa
Namun ia tak lagi secerah waktu-waktu sebelumnya
Hanya sepuluh cahaya bintang
Menemani bulan merajut mimpi jiwa yang hendak terlelap
Aku berbisik pada satu bintang yang paling jauh dari bulan
Agar ia sampaikan pada dunia
Aku sangat menyukai hidup ini!

Ibu

malaikatmu akan bernyanyi untukmu
akan tertawa untukmu
akan berdoa untukmu
disetiap hembusan nafasnya
akan selalu menjaga dan melindungimu
disetiap langkahmu
dia yang akan mengenalkanmu pada Tuhanmu
dia akan selalu ada untukmu
dia akan berkorban nyawa untukmu
dan panggillah dia...
"Ibu"
Puisi By, Vio

Rindu Untuk Sang Bintang

Teringat waktu terakhir berjumpa denganmu…
Membuat kenangan yang tak terlupakan dihatiku…
Pelukan eratmu membuatku tak ingin berpisah denganmu…
Senyuman yang seakan memancarkan cahaya Bintang…
Menerangi hatiku yang semula gelap tertutup awan hitam yang tebal…
Seakan-akan engkaulah malaikat Bintang yang turun dari langit…

Dua minggu telah berlalu, aku tak jumpa denganmu…
Rasanya hati yang gelap ini menyimpan rindu…
Yang teramat mendalam kepada Sang Bintang…
Dimanakah engkau Bintang???
Awan gelap sedang menyalimuti hatiku…
Tetapi sampai saat ini cahayamu belum memberikan penerangan dihatiku…
Bila suatu saat nanti engkau dating dan menyinari hatiku kembali…
Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu…Bintang… Aku cinta kamu…

Puisi By, Elen Astarina

Denting Tengah Malam

denting tengah malam
syairmu adalah ketenanganku

buat sukmamu melayang
jelajahi alam khayalku
berikan kedamaian dalam jiwa-jiwa yang gersang

denting tengah malam
terima kasih
terima kasih atas kehangatan yang ada

denting tengah malam
tetaplah bersamaku

Puisi By, Vio

Lonceng Peri

Puisi By, Ressa Novita (Ocha)

Lonceng itu berdenting tiga kali saat ku berhenti karena lelah…
Tanda bahwa Tuhan memberikan waktu untukku bermanja…
Seorang peri cantik turun dari cahaya di balik awan…
Tanpa kata menarikku ke dalam pelukannya yang hangat…

Aku percaya
Tuhan mengutusnya untukku…
Memberiku nafas ringan bagai hangatnya belai malaikat…

Tumpah ruah airmataku mengering dipangkuannya…
Bukankah ia terindah untukku?…
Ia teriakan semangat…
Ia dongengkan harapan…
Ia tunjukkan jalan kebahagiaan…
Peri putih itu membuatku berjanji…

“Pasti… Aku Pasti!!!”

Sampai janji tumbuh kuat melangkahkanku tinggalkan kemanjaan…
Lonceng itu kembali berdenting…

Satu…Dua…Tiga…
Peri cantik ku pergi…
Tanpa sedikitpun menyisakan cahayanya…

Kecewa…
Tapi aku telah banyak belajar tentang hidup…
Ia pergi karena Tuhan ingin aku kembali melangkah tegar…
Tanpa pernah mengeluh lelah dan berkata…

“Aku Bosan!!!”

Siapa yang mengirim kata?

Rangkaian kata yang kau ukir dalam untaian kalimat
Membawa ku ke dalam buaian semilir angin surga
Sesejuk tetesan embun pagi menyirami jiwa ini
Bangkitkan sukma yang lama terlelap

Seharum bunga-bunga di taman surga
Indah tebarkan pesona bagi insan sejagat raya
Membuat tanda tanya
Siapa yang mengirim kata?

Puisi Mobile By, Mr. Otoy

Doa Ayah

Tuhanku…
Bantulah Putra-Putriku menjadi manusia yang kuat
Untuk mengetahui manakala ia lemah Dan cukup berani menghadapi dirinya manakala ia takut

Manusia yang bangga dan tangguh dalam kekalahan, Jujur dan rendah hati serta berbudi halus dalam kemenangan

Bentuklah Putra-Putriku menjadi manusia yang hasratnya tidak menggantikan yang mati. Putra-Putri yang mengetahui Engkau serta insyaf bahwa mengenal dirinya sendiri adalah landasan ilmu pengetahuan

Tuhanku…
Aku mohon Putra-Putriku jangan dipimpin diatas jalan yang mudah dan lunak
Tapi dibawah tekanan dan desakan, kesulitan serta tantangan

Didiklah Putra-Putriku agar teguh berdiri diatas badai, Serta berbelas kasih pada mereka yang gagal

Bentuklah Putra-Putriku menjadi manusia yang hatinya jernih, yang cita-citanya tinggi
Putra-Putri yang sanggup memimpin dirinya sendiri sebelum ia berhasrat untuk memimpin orang lain

Putra-Putri yang menjangkau hari depan, namun tak pernah melupakan masa lampau dan setelah ini menjadi miliknya

Aku mohon Putra-Putriku juga diberi perasaan jenaka, Agar bisa serius tanpa menganggap dirinya terlampau serius

Beri juga ia kerendahan hati, Agar ia ingat kepada kesederhanaan dan keangungan asli
Kepada sumber kearifan dan kepada kelembutan serta kekuatan hati

Dengan demikian, maka Aku, Ayahnya
Akan memberanikan diri berbisik…

“HIDUPKU TAK SIA-SIA”
Douglas Mc Arhtur.

Minggu, Mei 11, 2008

Barisan Makna

Puisi By, Ressa Novita (Ocha)

Ketika Sang Surya elok bersanding mutiara pagi
Itu kasih di balik sayap-sayap hangatnya
Ketika Peri Surga nyanyikan senandung alam
Itu senyum di antara merdu indahnya
Ketika seorang Hawa menarikan jemari dengan sutra
Itu cantik di dalam ketulusannya

Ketika aku melemparkan rasa menjauh dari hati
Itu luka akan kepedihan jiwa
Ketika aku berbisik dalam diam
Itu keluhan lelah akan perjalanan
Ketika aku berdusta dalam kejujuran
Itu tangis dalam tawa kebahagiaan

Ketika langit hilang cahaya hidup
Itu mimpi untuk hatiku
Itu mimpi untuk semua jiwa
Itu mimpi untuk dunia

Dan ketika mimpi terbaring bersama setangkai mawar putihmu
Itu cinta yang akan menghapus barisan makna yang pernah ada dalam goresan penaku

Rembulan di Pagi Matahari Part 1 (Kasih Telah Sampai)

Cerpen By, Ressa Novita (Ocha)

Ia datang setiap saat langit berganti
Ketika semua nafas kembali dalam sadar
Ia serukan kekalahannya pada dunia
Dan membangunkan lawannya
Bukan untuk mengeluh atau memaki penuh benci
Tapi untuk berikan semangat dan kekuatan
Pada lawan yang begitu bersinar baginya
Demikianlah yang dilakukan Rembulan di pagi Matahari
Di setiap hari yang mereka lalui
Di atas langit yang sama


Pukul 6 sore, pada jam-jam itulah Matahari merasakan kantuk menyerangnya dengan begitu dashyat. Saat itu tanpa berpikir panjang ia segera mengucap salam perpisahan pada sahabatnya, para awan, melambaikan tangan pada kawan-kawan burung yang hendak kembali ke sarang, setelah itu meredupkan sedikit sinarnya kemudian menutup mata dari indahnya dunia. Dan semua itu berulang setiap hari yang ia lalui.

Ia sadar tak akan selalu semudah itu ia terlelap, karena itu seringkali ia memanggil sekelompok Angin untuk menyejukkan tubuhnya dan tak lupa meminta beberapa Bintang yang lebih dahulu datang untuk menyanyikan sebuah lagu tidur dengan melodi nan lembut untuknya. Maka ia pun akan benar-benar pulas dalam peraduannya yang mulai mendingin.

Matahari tidak pernah memikirkan ataupun perduli pada dunia yang baru saja ia sembunyikan cahayanya. Ia tak pernah tahu dan tak pernah mau tahu, bahwa ketika ia bernafas lega dalam tidur nyenyaknya, dunia lemah, begitu juga dengan segala isi yang ada di dalamnya.

Saat itulah Rembulan datang, mencoba berdiri menggantikan posisi Matahari. Tapi sayangnya Rembulan begitu dingin, tak sedikitpun kehangatan Matahari yang ada padanya. Lalu bagaimana ia dapat menghangatkan dunia? Bagaimana pula ia dapat memberikan cahaya untuk mengusir kegelapan ini? Dalam lamunannya Rembulan putus asa. Ia sadar, ia tak sehebat Matahari. Ia pun tak akan mendapat pujian sebanyak yang didapat Matahari. Matahari hanyalah angan-angan bagi Rembulan.

"Jangan sedih!" suatu hari sebuah Bintang berbisik padanya.

Saat itu Rembulan melemparkan tatapan sinis pada si Bintang.

Ia begitu mungil, seratus bintang macam ia pun tak akan mengalahkan ukuran tubuhku. Tapi ia memiliki apa yang selama ini aku inginkan, cahaya. Ia bahkan memiliki cahaya yang amat terang. Dunia dan isinya pasti akan sangat menikmati keindahannya. Jujur, aku iri padanya. Batin Rembulan.

"Ambillah cahaya Matahari sebanyak yang kamu mau!"

Mendengar lanjutan kata-kata Bintang, Rembulan segera menghilangkan pemikirannya tentang Bintang yang semula membuatnya terlihat sedikit tidak ramah.

"Tapi, bagaimana dengan Matahari?! Apa dia akan baik-baik saja jika aku mengambil cahayanya?!" Tanya Rembulan gelisah.

"Hahaha…" Bintang tertawa kecil.

Bagi Bintang baru kali ini ia melihat mahluk langit yang sedemikian polos dan bodohnya. Apakah mahkluk langit memiliki perasaan sepeka manusia?! Mengkhawatirkan mahkluk lain! Apa mungkin?! Batin Bintang.

"Kita mahkluk langit, bukan manusia atau sejenisnya yang hidup dan melangkah secara horizontal. Memiliki apa yang kita inginkan lebih penting dari apapun. Kenapa kamu harus memikirkan yang akan terjadi pada Matahari?! Toh, ia tidak akan tahu. Ia tak akan terbangun sebelum Ayam-ayam di bumi berkokok. Lagipula kamu kan tahu sendiri, cahayanya tidak akan pernah habis. Tuhan memberinya kepercayaan untuk menyinari seluruh Bima Sakti ini. Ia dianugrahi cahaya abadi yang tak akan redup sekalipun kiamat datang berulangkali dan menghancurkan kita semua"

"Tapi…"

"Tapi apalagi?! Maksud kamu kan baik, ingin memberi kebahagiaan pada dunia di saat Matahari tidak memperdulikan mereka lagi. Ambillah sebanyak mungkin cahayanya! Maka dunia akan mencintai kamu seperti dunia mencintai Matahari"

Bintang berhenti bicara. Membiarkan Rembulan larut dalam pikirannya untuk mempertimbangkan saran Bintang.

Satu hari, satu minggu, satu bulan. Akhirnya Rembulan bertekad bulat untuk mengambil cahaya Matahari. Lebih tepatnya mencuri. Tapi, sungguh Rembulan tidak ingin melebihi Matahari, karena ia sangat mengagumi kehangatan tunggal yang dimilikinya.

Lahirlah Rembulan sebagai sosok yang baru. Dengan cahaya redup yang indah. Cahaya yang menyelimuti tubuhnya bahkan tak setengah dari yang dimiliki Matahari. Ruang kehidupan ini tetap gelap, namun semua makhluk akan merasakan cahayanya setiap kali menatap langit. Dan sejak saat itu ia begitu dikagumi kala Matahari meninggalkan dunia dalam keadaan gelap tanpa cahaya.

Bintang-bintang menjadi mahluk langit yang paling bahagia, kini mereka dapat menikmati cahaya yang begitu hebat, harapan yang tak akan terwujud jika mereka terus menanti keajaiban datang dan membangunkan Matahari sebelum waktunya.

Para Awan menari kegirangan, mereka senang karena selama 24 jam mereka bermandikan cahaya. Makhluk bumi tak akan menganggap mereka hilang bersama Matahari lagi. Biar mahluk bumi tahu, ada atau tidak Matahari, para Awan tak pernah meninggalkan mereka.

Burung-burung malam menyerukan puji-pujian kepada Rembulan. Akhirnya mereka tak lagi kesulitan mencari mangsa. Cahaya Rembulan bagi mereka sangat cukup untuk membantu mereka. Terang namun dingin. Itu lebih baik dibandingkan Matahari yang akan membunuh mereka dengan cahaya panasnya.

Serangga-serangga malam tak henti-hentinya bernyanyi. Mereka menghabiskan waktu sambil menikmati keindahan langit dengan cahaya redup Rembulan dipadu dengan kilauan Bintang-bintang dan tarian Awan nan lembut. Mereka sangat menyukai kehadiran Rembulan. Dan berharap untuk selamanya akan terus seperti ini.

Kebanggaan terbesar dirasakan Rembulan ketika semua manusia mengelu-elukan keindahan cahayanya. Mereka tak sekalipun melupakan kehangatan redup yang mengantar mereka memasuki gerbang di alam yang berbeda, alam mimpi yang penuh dengan keajaiban dan harapan.

Rembulan bagaikan surga bagi mereka semua yang dianugrahi penglihatan sempurna, kecuali Matahari. Si pemilik cahaya Rembulan.

* * *

Ketidaktahuan menaungi cahaya indah Matahari di pagi hari. Seperti biasa ia akan terbangun dengan keengganan menyapa dunia. Biasanya ia akan bergumam barang sejenak setelah ia merasa mual untuk terus menutup mata. Kadang mengeluh akan jenuhnya hidup, kadang berkomentar tentang ketidakadilan dunia yang seringkali dilihatnya, bahkan kadang ia mencibir pelan kepada makhluk-makhluk di sekitarnya yang menurutnya janggal atau terlihat menyebalkan. Setelah selesai dengan rutinitas demikian, ia akan kembali kepada dirinya semula. Yang setiap kali menatap luasnya langit, birunya laut, tingginya gunung dan megahnya kota-kota ciptaan manusia , dengan riang ia akan berseru "Oh, alangkah indahnya dunia!"

Suatu pagi, ia terbangun sebelum Ayam-ayam milik Manusia-manusia di bumi membangunkannya. Sapaan hangat dengan suara yang begitu merdu melintasi pendengarannya.
"Selamat pagi, Matahari!" untuk ke tiga kalinya suara itu datang, membuat Matahari benar-benar harus membeningkan pandangannya yang masih terasa berat.

Segera Matahari menatap ke atas langit. Saat ia berhasil menajamkan mata, ia menemukan bola angkasa yang tidak terlalu besar, tapi juga tidak terlalu kecil. Bola itu mengeluarkan cahaya, sedikit redup, dan jika terus diperhatikan cahaya itu terus meredup.

Saat melihat cahaya bola itu terus meredup, ia teringat dengan kata-kata Tuhan yang diucapkan padanya milyaran tahun yang lalu, ketika Ia selesai menciptakan bumi.

"Tidak ada cahaya yang dapat menandingi cahaya tubuhmu, kecuali cahaya tunggal Ku. Cahaya apapun akan terus meredup dan mati tanpa sisa, jika bertemu dengan cahayamu. Termasuk bintang, pelangi maupun cahaya-cahaya hebat buatan manusia"
Ah, benar. Dia meredup karena aku terbangun. Mungkin dia akan bersinar lebih lama seandainya saja ia tidak membangunkanku. Padahal dia memiliki cahaya yang sangat cantik, meskipun tidak banyak. Batin Matahari.

Dan dia sangat ramah. Dia tak henti tersenyum padaku.

"Selamat pagi!" Matahari membalas sapaan bola cantik yang tak dikenalnya itu dan tak lupa melemparkan senyuman tanda bahwa Matahari amat senang bertemu dengannya.

Setelah itu Matahari tak lepas memandangnya. Ia bahkan melupakan rutinitasnya di setiap pagi. Dan tidak menyerukan keindahan dunia. Ia terbuai keindahan sesosok cahaya yang sama sekali tidak dikenalnya. Mendengar perihal keberadaannya pun tidak.

* * *

"Ada apa dengan mu, Matahari?! Kamu lupa menyapaku pagi ini! Beberapa pagi sebelumnya juga! Kamu bahkan tidak menghiraukan kedatanganku!" tanya seekor kelelawar dengan nada sedikit meninggi. Maklum, sejak tadi Kelelawar sengaja berdiri di depan Matahari, namun sedikitpun Matahari tidak menyadari kehadirannya. Dan ini bukan untuk yang pertama kalinya bagi Kelelawar.

"Matahari!" ulang Kelelawar.

"Ah, pagi Kelelawar!" sapa Matahari singkat.

Setelah itu ia kembali menghiraukan Kelelawar dan melanjutkan rutinitas barunya yang sama sekali belum dimengerti teman-temannya, tak terkecuali Kelelawar.

"Matahari!" panggil Kelelawar dengan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya.

"Ehm?!" sahut Matahari ringan. Dan ia masih belum benar-benar menghiraukan Kelelawar.
"Apa sih yang kamu lihat sampai-sampai kamu melupakan segalanya?!"

"Aku tidak melupakan apapun!"

Kelelawar mencoba mengikuti arah pandangan Matahari. Dan ia tak melihat apapun yang menarik kecuali langit yang hampir seluruhnya bermandikan cahaya Matahari.

"Ah, sudahlah! Kamu semakin panas dan membuat pandanganku semakin gelap. Kalau aku harus menunggumu menjawab pertanyaan sederhanaku. Bisa-bisa aku mati terbakar disini"

Tanpa memperdulikan Matahari yang juga tidak memperdulikannya, Kelelawar mulai mengepakkan sayap-sayap tipisnya untuk terbang kembali ke pohon tempat tinggalnya.

"Eh, tunggu!"

Tahan Matahari, tiba-tiba. Hampir saja Kelelawar hilang keseimbangan mendengar perintah Matahari.

"Apa?!" tanya Kelelawar, judes.

"Apa ada bola angkasa bercahaya yang menyerupai aku di malam hari?"

"Maksudmu Rembulan?!"

"Oh, jadi namanya Rembulan. Berarti sekarang dunia tidak lagi gelap saat aku tertidur?"

"Kamu salah! Dunia selalu gelap saat kamu tertidur, sekalipun ada 100 Rembulan yang menggantikanmu. Dia begitu kecil dan redup, bahkan aku tidak yakin kalau cahaya yang dimilikinya alami. Tidak seperti kamu. Duh, aku pulang dulu ya! Panas nih!"

"Dan dia akan pergi saat aku terbangun?!"

"Bukannya pergi, tapi tak terlihat. Seperti kamu membuat bintang-bintang tak terlihat. Sudah ah! Jangan tanya lagi!"

"Dan dia tidak terdengar lagi suaranya?!"

"Itu karena kamu berotasi menjauhinya!"

Setelah Kelelawar berlalu, Matahari kembali menatap ke arah bola angkasa yang kini dia kenal sebagai Rembulan. Tapi, terlambat, ia sama sekali tidak dapat melihatnya lagi.

"Oh, padahal aku ingin terus melihatmu di langit ini, Rembulan!"

* * *

Pagi ini Matahari terbangun oleh sapaan Rembulan, sama seperti 100 pagi yang ia lalui sejak kehadiran Rembulan di langit fajar yang seharusnya hanya miliknya. Matahari rela berbagi dengannya, toh ia tidak bertahan lebih dari 30 menit. Lagipula Matahari merasa teramat lebih baik setiap kali terbangun dengan sapaan Rembulan. Membuka mata disertai senyuman bagi Matahari sudah sangat mewakili kalimat yang biasa diucapkannya sebelum kehadiran Rembulan "Oh, indahnya dunia!".

100 hari berlalu hanya dengan sapaan selamat pagi dari kedua belah pihak, dan keadaan itu terlihat sangat membosankan bagi setaman bunga matahari yang setiap saat mengikuti gerak-gerik Matahari. Mereka sepakat mendorong Matahari untuk memulai pembicaraan.

"Tanyakan padanya, apa yang dia lakukan dihari sepagi ini?" saran setangkai bunga matahari.

"Jangan! Jangan! Mulailah pembicaraan dengan memuji keindahannya!" saran setangkai bunga matahari yang lainnya.

"Bukan begitu! Berbasa-basilah! Tanyakan, apa kamu tidak lelah membangunkanku setiap pagi?"

"Sudah-sudah! Biar aku bertanya sendiri, kalian tidak usah mengajariku!"

Pagi-pagi dengan menghemat kata telah berakhir. Matahari tak lagi sungkan meneriakkan nama Rembulan. Rembulan pun dengan senang hati menceritakan kisah-kisah lucu karangannya sendiri dan membuat pagi Matahari penuh tawa.

"Terimakasih, Rembulan! Kamu selalu ada setiap kali aku membuka mata!"

"Jangan sungkan, apa yang aku lakukan tidak seberapa dibandingkan pengorbananmu pada dunia dan seluruh isi bima sakti ini"

"Ah, apa benar? Mahluk bumi bermimpi saat tidur di malam hari"

"Yah, dan mereka menikmati mimpi mereka"

"Seberapa banyak Bintang yang menemanimu? Oh, senangnya! Mereka begitu indah. Tapi mereka tidak bisa menemaniku. Aku terlalu silau dan panas"

Jika bukan karena bujukan setaman bunga matahari mungkin Matahari tidak akan mengenal Rembulan lebih dari kekaguman akan keindahannya. Begitu juga dengan Rembulan.

Kini, pagi adalah 30 menit penuh arti bagi mereka berdua. Menit berikutnya menjadi lebih berarti bagi Matahari, karena ia percaya Rembulan tak akan pergi meninggalkan pagi miliknya. Sekarang, esok, ataupun lusa. Akan mereka rajut cinta, bersama. Untuk persembahkan kehangatan cahaya pada dunia di dua waktu yang berbeda.