Kamis, Maret 12, 2009

Rembulan di Pagi Matahari (Part 4) * Setulus Bintang

Pernahkah kamu melihat bintang sendiri dalam kegelapan???
Ketika ia melewati malam yang telah menelan rembulan
Ketika ia menanti pagi bercahaya membakar sinarnya
Pernahkah kamu mendengar keluhnya yang tanpa airmata???
Setiap saat ia merindukan cinta dalam bayangan mimpi
Setiap saat ia mengelukan hangat yang abadi
Aku pernah!
Dan ia ingin kamu melihat dan mendengarnya juga

“Lama ia menghilang! Lama aku merindukan senyumnya yang begitu hangat! Ia seolah marah pada dunia, pada semua alam beserta isinya. Karena satu tragedi kini ia kembali…”
“Kematian Sarah…” potongku, mencoba menjawab teka-teki yang sedang diberikannya.
Aku menatap sinarnya yang benderang kemudian meredup, benderang lagi dan kembali meredup. Setiap detik volume sinarnya berganti, seperti kelap-kelip lampu warna-warni yang mengelilingi pohon natal. Sepertinya ia sedang berpikir. Memikirkan kata-kata selanjutnya yang akan disenandungkan untukku.
“Ah, nggak asik! Masa kamu udah tahu setiap yang aku ceritakan padamu tentang Rembulan!” protesnya sambil merengut.
Cukup lama cahayanya meredup, menandakan kekesalannya yang dibuat-buat. Aku hanya tertawa kecil melihat tingkahnya yang menggemaskan.
Sahabatku yang satu ini bernama Lintang, sebuah bintang penghuni langit malam. Bintang yang kalau di dunia nyata hanya benda mati yang bersinar tanpa jiwa. Yang bagi penghuni alam hanya hiasan langit semata. Tapi di dunia ku yang satu ini berbeda. Bintang sama dengan jutaan makhluk langit lainnya yang dibuat hidup, punya pikiran, beberapa bahkan berperasaan. Hanya saja manusia di dunia ku ini tidak semua menyadarinya, mereka pikir penghuni alam selain mereka dan binatang-binatang tak lebih dari benda mati.
Aku dan keluarga kecilku tinggal di sebuah rumah mungil di pegunungan. Saat subuh, setiap hari, aku mendahului matahari menyambut pagi. Dulu juga aku pernah melihat Rembulan, bersanding serasi dengan Matahari. Waktu itu aku masih sangat kecil untuk mengerti. Tapi tidak sekarang. Sayangnya, bintang yang satu ini menghilang setiap pagi sebelum matahari muncul, jadi ia tidak tahu tentang kebersamaan yang indah itu.
“Sarah itu temanku sedari kecil. Ia selalu membicarakan Rembulan sama seperti kamu, Lintang!”
Cahaya Lintang sedikit terguncang, menandakan ia gugup mendengar kalimat yang baru saja kuucapkan.
“Tidak apa-apa, Lintang! Mengaku saja padaku! Ceritakan yang belum aku ketahui tentang seperti apa hatimu menatap Rembulan Sang Pangeran Malam? Kamu menyukainya?!” desakku penasaran.
Tiba-tiba cahayanya terlihat lebih pekat dan jelas, jika ia berwujud manusia pasti pipinya sedang memerah karena malu. Hah, dasar Bintang. Dirinya, kisah hidupnya, manis sekali. Membuat langit selalu lebih indah dari biasanya. Apalagi dipadu oranye dari sudut dunia yang mulai menyala. Ah, matahari terbangun!
“Aku pergi dulu, Wilda! Sampai jumpa besok!” pamit Lintang tiba-tiba.
Matahari mulai menyipitkan matanya, ia terbangun. Bumi berotasi searah jarum jam. Bintang-bintang menjauh dan tak lagi terlihat mata manusia, kini hanya Tuhan yang mengetahui dimana keberadaan mereka.
“Oke! Jangan lupa besok ceritakan padaku tentang apa yang belum kuketahui, tentang isi hatimu sedalam-dalamnya!” teriakku mengakhiri perbincangan.
Kulihat Matahari telah menampakkan tubuhnya dengan sempurna, berlawanan arah samar-samar masih terlihat sosok Rembulan. Benar, Rembulan telah kembali berkat Sarah dan mimpi-mimpinya yang kini telah terkubur dalam perut bumi. Bahkan dengan sosok yang lebih manis dari sebelumnya.
Lagi, aku akan menyaksikan kisah cinta yang begitu romantis saat Rembulan bersanding dengan Matahari. Setiap kata-kata yang keluar dari bibir maya mereka yang terpadu riang dalam waktu sesingkat kerdipan mata, ada sebuah rasa yang terbalas namun tak terucap. Mereka seperti percintaan remaja zaman kakek nenek ku dulu. Malu-malu, seringkali berakhir tragis dengan perjodohan. Entah kapan mereka akan lebih dekat satu sama lain, entah siapa yang akan memulainya terlebih dahulu.
* * *
”Semalam aku berbincang dengannya!” teriak Lintang sumringah. Jelas sekali terlihat sinarnya berubah kemerah-merahan. Dia benar-benar terlihat bahagia.
Pagi ini terlihat istimewa bagiku. Karena sahabat langitku yang manis ini terlihat lain dari biasanya. Seringkali ia tertawa kecil dan sinarnya bergerak-gerak perlahan seolah ia sedang menari-nari mengitari langit.
”Oh ya, jadi kalian sudah berteman sekarang?! Apa saja yang kalian perbincangkan?!” sahutku semangat meskipun aku tahu ego Rembulan yang telah membuat Sarah pergi tanpa dapat meraih harapannya.
Kenapa baru sekarang Rembulan kembali?! Kemana dan apa yang dia lakukan dulu?! Saat ia tahu ada seorang anak penyakitan yang mengharapkannya, yang menggantungkan mimpi terakhir pada dirinya.
Semua pertanyaan itu tiba-tiba muncul, menghancurkan simpati ku pada Rembulan hanya dengan hitungan detik. Kalau ingat Sarah, betapa aku membenci Rembulan bodoh, yang telah mengingkari janjinya entah atas dasar apa. Dia tidak pantas mendapat gelar pangeran malam, pikirannya begitu picik, dia datang dan pergi sesuka hatinya seolah langit miliknya seorang.
Aku mendengar kisah kematian Sarah dari cerita Lintang. Sarah menagih janji Rembulan dipertengahan bulan Desember yang dingin. Sarah memohon harapannya terkabul sekali lagi di sela sisa-sisa napasnya. Sarah hanya ingin didetik terakhirnya melihat dunia, yang ia lihat hanya Rembulan. Namun Rembulan berkhianat. Bintang mendengar isak Rembulan dari kejauhan, sehingga Bintang yakin Rembulan ada dan menyaksikan pemandangan menyedihkan itu. Seharusnya ia muncul barang sejenak, itu tidak akan merugikan siapapun bukan. Setelah Sarah jadi mayat, baru ia muncul setiap saat, seperti dulu lagi. Maksudnya apa?!
Kulirik Bintang, terlihat sumringah memikirkan pertanyaanku tadi. Melihat pemandangan manis itu, tiba-tiba terlintas sebuah pertanyaan dibenakku. Kalau aku jadi Bintang dan saat itu melihat penderitaan Sarah yang merintih kesakitan berharap Rembulan berbelaskasihan padanya. Aku akan sangat marah, aku akan menyumpahi kekejaman Rembulan yang teguh pada pendiriannya. Apalagi kekejaman itu sampai merenggut nyawa seorang gadis di depan mataku sendiri. Tapi Bintang?! Kenapa Lintang seolah tidak mempermasalahkan kejadian itu?! Apa menurutnya tindakan Rembulan saat itu adalah yang terbaik?! Dan sampai saat ini, masih dengan sumringah memuji-muji Rembulan. Seperti apakah perasaan Lintang terhadap Rembulan yang sesungguhnya?!
”Aku menyukai kharismanya! Itu saja... Dan rasa suka itu tidak akan lebur oleh panas Matahari sekalipun!” jawab Lintang beberapa hari yang lalu saat aku menanyakan tentang perasaannya terhadap Rembulan.
Hah... Aku rasa tidak hanya masalah kharisma yang membuat Lintang begitu menyenangi Rembulan. Rembulan tidak pantas diberikan simpati sebesar itu oleh Lintang. Rembulan bahkan tidak pantas bersanding dengan Matahari, sejauh apapun jarak mereka.
”Rembulan tidak seburuk yang kau pikirkan, Wilda!” ucap Lintang tiba-tiba, seolah ia merasakan kebencianku terhadap Rembulan yang kembali membara.
Dengan sedikit heran mendengar apa yang ia katakan, aku mulai menyimak. Tak sepatah katapun terlontar dari bibirku. Dan Lintang mengerti bahasa hatiku.
”Aku bertanya padanya perihal kematian Sarah, aku memaki atas kebodohannya membiarkan Sarah mati tanpa senyuman dan kenapa dia baru muncul sekarang, saat semuanya telah terlambat. Dia menjawab dengan berlinang airmata. Dia mengaku salah atas kebodohannya saat itu, ada rasa yang tak mampu ia ungkapkan yang membuatnya tidak bisa memenuhi harapan Sarah. Dia merasa tidak cukup kuat untuk kembali”
”Lalu kenapa setelah Sarah meninggal, dia malah muncul kembali?!” tanyaku kesal mendengar pernyataan itu.
”Rembulan bertekad tidak akan kembali apapun yang terjadi. Kematian Sarah mengguncangkan tekad kuat tersebut, tapi sebisa mungkin Rembulan masih bersikukuh pada tekad tersebut. Sampai suatu malam ada suara seorang anak yang memanggilnya dalam mimpi. Rembulan teringat Sarah yang dulu pernah memanggilnya seperti itu. Ingatan yang kuat terhadap Sarah membuatnya mendatangi mimpi anak itu, akhirnya Rembulan melihat satu lagi kenyataan pahit. Anak yang memanggilnya adalah yatim piatu yang terbaring koma di rumah sakit. Ia baru saja mengalami kecelakaan mobil saat mengamen di jalan yang ramai. Didalam komanya, ia ingin melihat Rembulan untuk pertama dan terakhir kalinya. Ia percaya orang yang sudah meninggal akan menjadi bintang di langit dan bersanding menemani malam-malam Rembulan, ia pun percaya kedua orangtuanya yang sudah meninggal hidup menjelma sebagai bintang. Ia ingin melihat Rembulan walau hanya dalam mimpi, agar ia pun percaya saat ini ia sudah meninggal dan berada di langit yang sama dengan kedua orangtuanya, langit berbintang dengan Rembulan di sisinya. Apa yang terjadi saat itu membuat Rembulan menghancurkan tekadnya sendiri. Ia tidak ingin melihat anak itu meninggal tanpa senyuman seperti yang terjadi pada Sarah! Ia tidak ingin ada anak yang mengalami seperti apa yang dialami oleh Sarah! Kematian Sarah adalah akibat dari kebodohannya, tapi kebodohan itu akan jadi pelajaran berharga, ia ingin Sarah yang entah sekarang berada dimana, bisa sedikit saja merasakan kehadiran Rembulan di setiap malam milik semua makhluk! Rembulan berjanji tidak akan pergi lagi! Apapun alasannya! Ia rela bila Tuhan meleburkannya kelak jika ia mengingkari janji tersebut”
Tak sepatah kata pun terucap dari bibir ku untuk menyanggah atau sekedar mengomentari penjelasan Lintang. Setiap orang pasti pernah lalai dan melakukan kesalahan. Begitu juga dengan Rembulan. Ah, sudahlah. Sarah pasti sudah tenang di alamnya yang baru. Dia pasti tidak setuju kalau ia tahu aku masih memikirkan bagaimana caranya meninggal, bagaimana Rembulan membuatnya meninggal dengan mata terbelalak menegadah ke langit malam berbintang tanpa senyuman perpisahan dari Rembulan, bagaimana ia mengubur harapannya ditubuh yang tak lagi bernyawa, dan pikiran-pikiranku negatifku yang lain tentang Rembulan.
”Rembulan sudah berjanji pada semesta! Jangan khawatir, Wilda! Tidak akan ada Sarah yang lain! Hanya akan ada orang-orang yang semakin mencintainya! Seperti aku!”
”Apa?! Coba katakan sekali lagi, Lintang!”
Tiba-tiba ia meredupkan sisa cahayanya. Hingga hilang tertelan jingga yang belum seharusnya sempurna.
”A... Aku pergi dulu ya, Wilda! Sudah pagi!” kilah Lintang, gugup.
”Tapi, fajar belum tiba!”
Lintang tak perduli, ia sudah pergi. Lebih tepatnya bersembunyi.
Lintang mencintai Rembulan. Kenyataan yang pahit. Seandainya Lintang tahu apa yang kulihat setiap pagi menjauhkan dirinya dari Rembulan.
Lalu menjelang pagi di hari-hari berikutnya, menjadi begitu sepi untukku. Entah, kemana Lintang bersembunyi. Tidak rindukah ia berbincang denganku. Mungkinkah ia ada masalah dengan Rembulan. Atau?! Ah, tidak mungkin ia lebur secepat ini kan?!
”Ia ada setiap malam. Coba temui dia di malam hari!” saran sebuah bintang yang meredup lebih dini darinya.
“Ya, kamu benar! Akan ku coba! Terimakasih!”
”Atau bermainlah denganku sebagai penggantinya!” tambah bintang itu, yang hanya kubalas dengan satu senyuman perpisahan sebelum ia menghilang.
* * *
Malam sudah cukup larut, cahaya-cahaya langit sudah cukup tinggi untuk kusapa dari jendela kamarku. Kuintip Lintang yang terlihat berkelap-kelip riang. Kutajamkan telingaku untuk mendengarkan bersama siapa ia berbincang.
”Mana mungkin ia tahu kalau kamu tak pernah mengatakannya! Kalau kamu hanya menunggu, sampai kapan?! Sampai Tuhan meleburkannya?!”
Membicarakan siapa ia?! Matahari?!
”Aku takut, ia malah membenciku!”
Itu suara Rembulan. Lintang berbincang dengan Rembulan.
Aku nyaris melompat kegirangan saat mengetahui dengan siapa Lintang menghabiskan malam. Tapi keinginan itu teredam dengan kalimat selanjutnya yang keluar dari cahaya mungil Lintang.
”Kamu ingat Wilda, teman kecil Sarah, sahabat manusia yang menemaniku menjelang pagi yang seringkali kuceritakan kepadamu. Menurutnya Matahari menaruh hati padamu”
Aku tidak pernah berbicara begitu padamu! Meskipun memang benar, tapi kalau aku cerita kamu akan patah hati! Lintang?! Apa yang kamu lakukan?! Bukankah kamu mencintai Rembulan. Kenapa kamu menyemangati Rembulan dengan kata-kata seperti itu.
Tanpa kusadari airmataku mengalir setetes demi setetes. Seolah sedang kuselami hati terdalam milik Lintang saat ia membohongi dirinya sendiri.
* * *
”Katakan kalau kamu tak lagi mencintainya, Lintang!”
”Maaf, aku mencintainya! Tak akan pernah berhenti mencintainya, Wilda!”
Cahayanya redup pucat. Tak perlu bertanya padanya, ia pasti tertekan.
”Tapi kenapa? Kenapa membohonginya? Kenapa membohongi dirimu sendiri? Kenapa kamu malah membuat lebih besar peluang untuknya bersama Matahari?”
”Karena aku mencintainya!”
Airmatanya mengalir deras. Aku baru tahu kalau bintang bisa menangis seperti manusia.
”Aku mencintainya dan aku sangat berbeda dengannya. Aku tak pantas untuknya. Hanya Matahari takdirnya. Tuhan membawa Rembulan untuk Matahari, untuk menemaninya, bukan untukku”
”Bodoh! Cinta itu butuh perjuangan!”
”Tidak! Cinta itu butuh pengorbanan, Wilda! Berkorban untuk orang yang kita cintai ketika ia dengan tulus mencintai orang lain. Seperti Rembulan yang dengan sangat tulus mencintai Matahari. Aku tak bisa lain. Aku ingin Rembulan bahagia. Dan aku tahu hanya dengan Matahari ia bisa bahagia”
Airmatanya berhenti mengalir. Tanda ketegaran hatinya dan keteguhan pendiriannya. Aku kembali menyelami dasar hati Lintang. Dadaku sakit seolah merasakan apa yang Lintang rasakan. Aku tidak bisa menahan pedih hatiku. Aku tidak bisa menahan gejolak perasaan lewat airmata yang jatuh berhamburan.
Lintang meninggalkanku bersama pagi yang telah datang membawa sepasang kekasih kerajaan langit. Sepasang kekasih yang bahagia dibalik hancurnya hati bintang terbaik yang pernah ketemui, sahabatku Lintang.
Inikah awal beserta akhir kisah cinta Lintang. Ketulusan telah membawanya dalam kebahagiaan yang tak pernah bisa terungkap tanpa meneteskan airmata kepedihan yang terpendam.

Andai kamu melihat dan mendengar dari bibir mungilnya
Akankah hatimu lebih tegar dariku
Untuk tidak meneteskan airmata
Mewakili kepedihannya yang terpendam bersama sebuah ketulusan

* * * The End * * *
Created By, Ressa Novita (Ocha)

Rabu, Maret 04, 2009

Hidup akan terasa berarti ketika kita berarti untuk semuanya
Berarti untuk sesama
Berarti untuk makhluk2 lainnya
Berarti untuk alam semesta

Meskipun adakalanya tak satupun dari mereka berarti untuk kita


created by, Ressa Novita (Ocha)

Kamis, Februari 26, 2009

Show Me Your Love !!!

created by, Ressa Novita (Ocha)


bintang surga bersaksi…
cinta ini tak pernah mati…

“Cinta sih ga pernah mati, tapi penulisnya yang mati!”
“Kenapa, Sya?! Puisinya jelek ya?!” tanya Madya yang ga denger jelas gumamanku.

demikian rasa tulus dari hati…
untukmu bidadari…

“Cuihhh… Uekhhh…” jijik tak terhingga.
“Arsya…” Madya bingung.
Apapun didunia ini berubah seiring berjalannya waktu, begitu juga perasaanku. Aku mencintaimu, tapi itu dulu. Kalau sekarang, aku berani jamin, aku sudah bosan memberi rasa itu padamu. Ada sesuatu yang telah merubah hatiku menjadi lebih dewasa dan sesuatu itu lebih pantas memilikiku.
“Sreeekkk…” aku merobek kertas itu menjadi delapan bagian dan segera membuangnya ditempat sampah yang kebetulan kami lewati.
Aku segera mempercepat langkahku meninggalkan Madya, karena aku dapat menebak apa yang akan dikatakannya setelah ia sadar betul dengan apa yang baru saja aku lakukan terhadap surat itu.
“Lho?! Suratnya?! Kenapa dibuang gitu aja?!” teriak Madya marah sambil mencoba menyamai langkahku.
“Seperti yang kamu inginkan, aku sudah membaca surat itu sampai selesai. Dan sekarang aku sudah tidak membutuhkannya lagi, makanya aku buang”
“Tunggu!!!” Madya menarik tanganku agar aku segera menghentikan langkahku. “Sya, kamu menyukainya kan?! Iya, kan?! Lalu kenapa kamu harus membuang puisi pemberiannya?!”
“Siapa bilang aku menyukainya?! Aku ga pernah memberi kesimpulan seperti itu kepada siapapun termasuk kamu!”
“Kamu tidak bisa membohongi mataku, aku bisa melihat perasaan yang terpancar setiap kali Edo…”
“Jangan sebut nama dia lagi!”
Madya terhentak kaget mendengar pernyataan tegas yang tiba-tiba keluar dari mulutku.
“Aku tidak butuh semua omong kosongnya. Terlalu lama aku menunggunya, Madya. Tapi apa yang aku dapatkan?! Cuma kertas-kertas bertinta yang hampir setiap hari ia berikan melalui kamu. Kalau aku bilang cinta, berarti kami ga lebih dari pacar pena. Yups, pa-car pe-na! Hubungan yang lokasinya satu tingkat diatas sahabat pena. Dah, Madya! Aku masuk kelas dulu” meninggalkan Madya yang sepertinya tak punya kata-kata untuk memperpanjang pembicaraan.
Aku menyukai Edo sejak 5 tahun yang lalu, saat seorang gadis SMU seperti aku dengan polosnya mengagumi karya-karya pujangga bodoh itu. Ditahun ketiga aku mengoleksi buku-bukunya, tiba-tiba aku bertemu dengannya disini, di universitas yang sama. Ternyata dia seorang assisten dosen di fakultas sastra. Saat itu aku baru saja memulai kuliahku di fakultas hukum. Menyadari keberadaannya di tempat yang sama denganku, bagaikan tertimpa rembulan (lho, kok jadi bahasa pujangga juga?!) aku sangat bahagia. Rasa itu pun berubah perlahan menjadi cinta. Dan entah apa yang terjadi, selembar surat cinta darinya sampai padaku.
Madya, mahasiswi fakultas sastra satu angkatan denganku, sejak awal dialah merpati pos milik Edo yang setia menyampaikan puisi-puisi cinta untukku. Entah apa imbalan yang diberikan Edo padanya sehingga ia tidak hanya menjadi merpati pos tapi juga seringkali mencekokiku dengan cerita-cerita manis tentang Edo, yang katanya assisten dosen paling oke di fakultas sastra.
Hati semakin berbunga-bunga? Sudah jelas! Cinta mati? Saat itu memang! Tapi jika ditanyakan sekarang, jangan harap aku mau berkata ‘iya’. 3 tahun adalah waktu yang cukup untukku membalas dengan perasaan yang sama. Awalnya aku sangat yakin kalau sebentar lagi dia pasti akan bertindak lebih jauh dari ini. Karena itu ku menunggu. Yakin dan terus yakin. Tapi keyakinan itu tak sekalipun terwujud. Puisi dan puisi lagi yang aku terima, dengan kata-kata yang bervariasi indah, namun mengandung makna yang sama, cinta.
Masih dengan harapan yang indah, aku merencanakan pertemuan manis dengannya melalui Madya. Tapi hasilnya tetap nihil. Dengan berbagai macam alasan, tak sekalipun undanganku dipenuhinya
Jenuh!!! Bosan!!! Muak!!! Empet!!!
Kata-kata diatas sudah cukup untuk menggambarkan perasaanku padanya saat ini. Tidak ada kata yang lebih manis dari kata-kata itu yang pantas dipersembahkan kepada Edo Renaldy sang pujangga muda yang terkenal dan tampan.
“Arsya!!! Arsya!!! Vie Marsya Dwi Santika!!! Hallo!!! Ngapain sih bengong sendirian didepan perpus?!”
Kehadiran Madya yang sesungguhnya tidak aku inginkan, menghentikan lamunanku.
“Eh, iya! Kenapa?” tanyaku wajar dengan senyuman yang tetap manis, walaupun di penuhi firasat buruk saat melihat raut gembira bercampur khawatir yang tergambar di wajah Madya.
“Tunggu lima menit lagi, aku sudah kasih tau Edo kalau kamu ada disini, dan kali ini dia pasti akan dating menemuimu” ungkap Madya berseri.
“Untuk apa?!” jawabku santai setengah kaget.
“Kok, tanya ‘untuk apa’ sih?! Ya untuk membicarakan soal hubungan kalian!”
“Cukup Madya! Sekali lagi aku katakan ‘aku tidak menyukainya’. Lebih baik kamu dan Edo jauhi aku, karena aku sudah tidak mau bermain lagi. Mulai sekarang cari cara lain supaya kamu mendapat nilai bagus untuk mata kuliah Edo!”
Kata-kata yang tepat! Kenapa tidak terpikir sejak dulu ya?! Dengan apa lagi Edo membayar Madya kalau tidak dengan nilai.
“Sudah ya! Aku harus pergi sekarang!” meninggalkan Madya yang pada hari ini untuk kedua kalinya kubuat diam dengan kata-kataku.
“Arsya, tunggu!!!”
Bukan suara Madya, tapi…
Aku menghentikan langkah dan membalikkan tubuhku. Tepat! Itu suara Edo, suara yang selama 3 tahun ini baru pertama kali ini kudengar langsung (penulisnya kebangetan!).
Tapi…
Aku sudah siap!
“Arsya… Sudah baca puisi dariku?”
“Ehm… Sudah! Puisinya bagus kok. Tapi, sorry tadi kertas puisi kamu terkena tumpahan saus saat aku makan siang di kantin! Jadi, aku buang deh! Sorry ya!” kebohongan yang sangat manis.
“Tidak apa-apa! Nanti aku buatkan lagi untukmu yang jauh lebih bagus dari puisi tadi” berseri-seri bahagia.
“Ga usah repot-repot! Percuma aku ga ngerti artinya! Lagipula puisi yang kamu berikan sudah terlalu banyak, sampai aku bingung mau dikemanakan” kejam banget.
“Arsya… Maaf… Sebenarnya aku…”
“Aku menyukaimu Edo. Sejak kamu mulai menerbitkan puisi-puisimu, aku sudah menyukaimu. Dan ketika aku tahu kamu ada di tempat yang dekat denganku, aku semakin menyukaimu” motong kalimat orang seenaknya.
“Aku juga menyukaimu, Arsya! Semua puisi yang berikan padamu…”
“Sudahlah, Edo!” lagi-lagi motong kalimat orang sembarangan. “Aku tak bisa menyembunyikan padamu bahwa… Aku benci kamu yang selalu memberikanku harapan-harapan indah melalui puisi-puisimu itu. Tapi kenapa hanya puisi?! Aku ga ngerti jalan pikiran orang macam kamu!”
“Maafkan aku… Tapi mengertilah, aku sungguh mencintaimu…”
“Sudah terlambat. Cinta yang ku jaga selama 3 tahun sudah cukup untuk membalas perasaan yang kau tuliskan untukku selama ini. Edo, terima kasih karena sudah mengajarkan padaku satu hal, yang semoga juga dapat menjadi pelajaran untukmu. Edo, aku atau gadis manapun butuh bukti bukan puisi”
Kata-kata terakhirku. Dan seketika keheningan menusuk telingaku. Tak terdengar suaranya sedikitpun. Hanya terdengar riuhnya lingkungan kampus yang dipenuhi aktifitas disore hari.
Hingga aku menyadari kedatangan seseorang yang sudah lama kunantikan.
“Ardan…”
Ardan. Tunanganku. Teman masa kecil yang 2 tahun lebih tua dariku. Orang yang selama ini dekat dengan aku dan keluargaku. Dulu aku hanya menganggapnya sebagai kakakku, karena ia sangat menyayangiku. 3 tahun yang lalu dia menyatakan cintanya padaku, dan aku mengabaikannya, mengabaikannya demi menunggu cinta Edo. Tapi ternyata ia begitu sabar menunggu dengan kasih sayangnya yang selalu ia berikan padaku.
“Edo, ini Ardan tunanganku. Seminggu yang lalu kami meresmikan hubungan kami. Ardan, ini Edo yang sering kuceritakan padamu”
“Hai…” sapa Ardan singkat. “Arsya, ayo kita pergi. Aku kan sudah janji akan mengajak mu ke suatu tempat hari ini”
“Iya! Edo, aku pergi dulu ya!”
Dan kamipun meninggalkan Edo yang masih belum mengeluarkan sepatah kata pun.
“Kasihan sekali! Pasti hatinya sangat terluka. Sampai bengong begitu”
Aku tersenyum geli mendengar gumaman Ardan yang terdengar mengejek.
“100% SUKSES!!!” teriakku kencang, membuat Ardan yang berjalan di depanku terkejut dan berhenti melangkah.
“Bangga…”
“Iya dong! Karena sekarang aku bisa dengan tenang menyayangimu seorang”
“Cuma sayang?! Ga lebih?!”
“Juga menyukaimu…”
“Tidak cinta…”
“Ehm…”
Terdiam sejenak.
“Suatu hari nanti pasti!” jawabku yakin sambil menarik tangannya untuk segera menuju tempat parkir di belakang kampus.
Seorang pria yang telah memberitahukan cinta padaku ternyata telah dikalahkan oleh seorang pria yang menunjukkan cinta padaku. Cinta yang tidak terbatas oleh kertas dan goresan pena.
Selamat tinggal, Edo.


“TAMAT”

Jumat, Februari 20, 2009

Bukan Aku Lagi... (mengenang dikebumikannya sepupuku tercinta 'Ivan Djauhari')

matahari kian meninggi kala peti itu tersangga balok kayu
dibawahnya ada liang mayat yg katanya 'aku'

hembusan angin menjadi saksi airmata yg sia-sia
pedih resapi doa sang pandita utk mayat yg katanya 'aku'

kasihan, mayat yg katanya 'aku'
kan slamanya terbaring dlm kegelapan

namun patut manusia bijaksana memahami
disana bukan 'aku' lagi

'aku' disini
antara ada & tdk ada
antara nyata & tdk nyata

masih menanti hidup
yg kan terulang lagi

/OCHA

Sabtu, Januari 31, 2009

Waktu ....

waktu...
bagai pedati tak berpelana
melintas jalan berbatu tak terkendali

aku penumpang di kursi tunggalnya
atap rapuh usang melengkung membentur dahiku

waktu...
sulit ku bernafas hening barang sejenak
detik berlalu selalu berganti baru

tiap jalan yg terlalui tlah ku lupakan
namun didepan sana masih menanti
tak terhingga yg harus ku lewati

waktu...
semoga ada satu detik belas kasihan
untukku bernafas hening
melepas penatnya hidup

Kamis, Januari 29, 2009

Doa Terakhir

terima kasih Tuhan...
aq msh punya mata
msh bisa melihat indahnya dunia
aq msh punya telinga
msh bisa mendengar merdunya suara

qtahu tak selamanya qtertawa
qmenanti waktu tuk menderita

jikalau memang tak ada bahagia didepan sana
kedua indera ini akan membantuq
utk bertahan hidup
meski tak ada lagi tujuan
selain menanti mati

krn itu Tuhan...
apapun kehendakMu utkq kelak
jgn Kau ambil mata & telinga ini
aq membutuhkannya
utk tersenyum esok pagi

Senin, Januari 26, 2009

Happy Sin Cia 2560 !

sehrsnya mereka mEngerti, sin cia itu tradisi org2 tionghoa & keturunan2nya.
tp ga tau knp, byk kerabatku yg ga lg merayakan sin cia krn alasan pindah agama.
lho, apa pindah agama jg berarti pindah silsilah keluarga?

sehrsnya mereka jg pindah wajah, dr yg wajah oriental menjadi wajah yg mencirikan agama baru mereka.
so, lengkaplah kekecewaan leluhur2 kita bangsa tionghoa.

bwt yg msh menghargai darah tionghoa yg mengalir ditubuhnya

"Kiong Hi"

Minggu, Januari 25, 2009

Doa Malam Imlek

di tahun yg baru ini
aku ingin mengakhiri sebuah perjalanan
satu dr sekian bnyk perjalanan yg kujalani

kuingin perjalanan ini diakhiri dg hadiah yg selama ini hadir dlm mimpiku
bukan cinta
bukan impian setiap wanita
karena cinta tak mampu membuatku sempurna

kuingin sebuah tongkat kayu yg kokoh
lbh kokoh dr kursi beroda yg kumiliki

maka aku akan mengakhiri sebuah perjalanan
dan menjalani sisa perjalanan yg lain
dg lbh tegar
dg penghapus airmata

Kamis, Januari 22, 2009

The Last Time Goodbye 4 Ne

for the last time
goodbye, Ne !

see you tomorrow in day dream only !
coz i've already burned
one page paper about you from my life book

here's no anydoubt again
here's no anyfeeling for you
here's no place for your name
go and don't come again !

i don't need your big bad love !

i'm so happy and enjoy life without you !

Senin, Januari 19, 2009

Penantian

jika langkahku adl hukuman
Tuhan, biar letihku berbuah karunia

jika nafasku adl derita
Tuhan, biar suara kecilku menjadi tawa

jika sepanjang usiaku adl kesendirian
Tuhan, biarkanku mencintai diriku sendiri

dan jika hidup tak juga berbelaskasihan
Tuhan, biarkanku tetap menanti
dalam doa

Kamis, Januari 01, 2009

SELAMAT DATANG TAHUN 2009 !!!

Ressa Novita

Thn itu tlah brakhir
Mnyebrangkn mimpi k pulau sana
Bln ktika q temukan bintang plng terang
Minggu ktika q jalani hdp damai diatas awan
Hr ktika q akhirx trlempar kmbl ke tmptku semula brpijak, kegagalan

Wktu itu tlah brakhir saat rembulan mati cahaya
3.. 2.. 1..
& q pun kmbl sprt dulu
Sprt sblm thn itu q lewati
Mngukir mimpi yg bu
Utk esok tujuan q mlangkah

2009
Slmt dtng thn yg br
Krn detik brsm wktumu
Q kan kmbl mngejar impian

Senin, Desember 22, 2008

Cinta Fisik

cinta itu punya satu sifat yg tersembunyi, fisik.
fisik yg terlihat dg mata, fisik yg tersentuh oleh perasa dan fisik yg terdengar lewat telinga.
fisik terabaikan karena hati mengambil alih.
seolah cinta adalah hasil reaksi hati, padahal semua rekayasa utk menutupi kebobrokan cinta.
tak ada satupun cinta sejati dijutaan pasangan abadi.
tapi ada jutaan cinta sejati antara anak dan ibunya, tanpa fisik, dg hati.
(Ressa Novita/Ocha)

LOVE U MOM

Senin, Desember 15, 2008

FORGIVE WORD FOR NE

i saw him in my dream
when i feel doubt who is my prince
not only once, the unknown figure
hold my heart up to my soul

with a slight hope
on the night i pray
dear, my dream prince
please coming when i open my eyes

apparently, God answered my prayer
or, it just the working fate

everyday my sun was coming
my dream prince was taking the form
of the real shape but illusion
he wasn't only in my dream

there's not aprince in my dream only again
i've already saw him come to me
my heart call him Ne
for each his sweet word for me

there're days that a few change in my life
there's figure that a few influence my heart
altought, everytime i doubt
there's feeling that a few increase my smile

but, when he said honest loving me
i snapped out and wake
this is other beautiful dream
that coming in to my real world with illusion shape

only one forgive word for Ne
i'm dreaming again !
in dream's enough for me to feel
i can't response your love

this companionship must end now
like the fate started it

i don't know what's the wrong
on condition that the time will never stop turning
i should come in to walk my life
looking for the real life, not imagine

only one forgive word for Ne
the fate asked us to met in dream world
dream's only for decorate the days
it will never be useful for me

only one forgive word for Ne
i have to go now
looking for my true prince
who will wake me up on tomorrow morning

only one forgive word for Ne
i hope you always remember me
coz in my life book
i have one special page about you

By, Ressa Novita (special for Nepathaya)

Minggu, Desember 14, 2008

TELL GOD !

Tell God what i need !
Kasih yg sungguh kasih
Tulus yg sungguh tulus

Tell God what i want !
Senyum yg memang senyum
Tawa yg memang tawa

Tell God what i miss !
Takdir yg benar takdir
Dekat yg benar dekat

Tell God what i try to find !
Cinta sebatas cinta
Jujur tak sebatas kata

And tell God what i get now !
Yg kucari, yg datang mencari
Kutinggal pergi karena alasan tak pasti

(by, ressa novita / ocha)

Kamis, Desember 11, 2008

TAKUT SENDIRI

Takut...
Takut...
Takut...
Aku melangkah sendiri
Sepi...
Sendiri...
Katanya Tuhan beserta setiap langkahku
Ya, aku tidak menyangkalnya
Kulihat Ia dengan batinku
Kurasa sosokNya dengan hatiku
Tapi, kadang sepi menggaung lbh dalam
Takut...
Aku rindu
Berjalan bersama dia yang dapat kulihat dengan penglihatan
Yang dapat kurasa dengan sentuhan
Aku rindu tapi lebih takut
Jika selamanya aku hidup dalam kesendirian yang sepi ini
(by, Ressa Novita/Ocha)

Rabu, Desember 10, 2008

KETIKA AIR MENGERING

Aku menangkap sejuk dr sengat panas sinarmu
Sejuk memantul di wajahku, beri nafas penghidupan lain jiwa
Aku mengering bersama kelopak-kelopak mawar dalam kebahagiaan
Menanti maut saat egomu menghancurkan
Aku berdoa tiap pagi kunikmati megahmu
Memohon maut meremukku dalam kebesaran jiwamu
Bawa hatiku terbang lewat sisa raga halusku
Tanpa nafas, aku kan berbaring sejenak di sisimu
Dengan pasrahku menunggu sentuhanmu
Dalam cintaku untukmu
Kurela mengering dalam pelukanmu

(By, Ressa Novita / Ocha)

Selasa, Desember 09, 2008

Tak Seperti Bintang

Ternyata hidup ini kepalsuan

Bintang dikagumi karena menawan
Bukan bagaimana bintang berarti bagi malam

Sama seperti manusia

Manusia dicintai karena rupawan
Bukan bagaimana manusia memaknai ketulusan

Maka tamatlah aku yang tak seperti bintang
Tanpa cinta
Selamanya ku kan hidup dalam kesendirian

(Ressa Novita/Ocha)

MAKNA CINTA

Cinta adalah ketika aku terbangun dipagi hari
Dan teringat akan senyumnya
Cinta adalah ketika aku melangkah dibawah sinar mentari
Dan berharap akan melihat sosoknya
Cinta adalah ketika aku merenung dikala senja
Dan merasakan kepribadiannya

Cinta...
Seperti waktu yang mengiringi langkahku
Seperti sinar yang menerangi jiwaku
Seperti doa yang menegarkan hatiku

Maka cinta adalah ketika malam bersanding bumi
Lalu aku memanggil ruh mayanya untuk hadir dalam mimpi tidurku
Setiap saat, sampai cinta yang tak abadi memutuskan untuk pergi
(Ressa Novita/Ocha)

Kamis, November 20, 2008

Surat Cinta Alice

By, Ressa Novita (Ocha)
Goreskan pena mu di atas selembar kertas biru… Layangkan untukku bersama namamu… Maka aku akan merasakan… Keindahan cinta yang kini melekat di hidupmu…

“Pos!!!”
“Terima kasih, pak!”
Minggu pagiku yang cerah diawali dengan datangnya surat cinta dari sahabatku, Alice, yang saat ini berada jauh di Biak.
Sambil berjalan masuk ke teras rumah, aku merobek amplop putih itu dan mengeluarkan selembar kertas putih dari dalamnya. Dengan hati-hati kubuka lipatan kertas tipis itu dan membaca tulisan berpena biru itu dengan seksama.

Dear Ariessa,
Akhirnya hari ini datang juga. Ini adalah surat cinta yang pernah kita sepakati 5 tahun yang lalu…

Yup! Ini bukan sembarang surat cinta. Kesepakatan yang pernah aku buat bersama sahabatku 5 tahun yang lalu, surat cinta adalah surat yang akan mengabarkan satu sama lain tentang cinta yang kami rasakan dan kami yakinkan untuk selamanya.Keyakinan besar akan cinta yang sulit untuk didapatkan. Tapi hari ini untuk pertama kalinya surat itu datang diantara kami.

…tapi sebelum itu bagaimana kabarmu, Ka Ardon dan teman-teman yang lain, Floren, Febrian, Aldi, Anne, Erick, my sweet brother Ka Ajie, Ka Hedy, Ka Iyos, Ka Beni, Ka Reki, dan Ka Odie? Kalian pasti baik-baik saja kan? Aku sangat merindukan kalian semua. Oh iya, bagaimana keadaan my prince Gama…

Aku melipat kembali surat yang belum selesai kubaca itu setelah membaca nama Gama menghiasi kalimat di kertas itu. Nama itu mengingatkanku pada masa-masa sekolahku bersama sahabatku.
Alicia Martina Leva, yang biasa kupanggil Alice adalah seorang gadis yang terlihat begitu dewasa, anggun, penuh percaya diri dan selalu menginginkan kesempurnaan. Ia baru merasakan kenyamanan di sekolahnya sendiri, ketika ia bertemu denganku dan orang-orang yang namanya disebutkan di surat itu. Tapi paling membuatnya mengagumi bahkan memuja SMU Gaeshiera adalah seseorang yang bernama Gama Abife Farghesa.
Di tahun keduanya di sekolah swasta itu, Alice yang saat itu menjabat sebagai ketua klub Tari bertemu dengan Gama salah seorang anggota klub basket.
Biasanya Alice senang menghabiskan waktunya di sekret klub tari bersamaku, Anne dan Floren yang sama-sama bergelut di klub yang sama. Tapi, siang itu Anne dan Floren tidak menampakkan batang hidung mereka dan karena bosan aku mengajaknya ke sekret klub Basket yang letaknya tepat disebelah sekret klub tari. Aku punya banyak teman di klub ini, selain itu kakakku adalah kapten klub Basket ini, namanya Ka Ardon. Di sanalah untuk pertama kalinya Alice bertemu dengan Gama.

“Alice, kita duduk disini aja!” pintaku sambil menarik Alice dengan sedikit memaksa untuk bergabung bersama beberapa anggota klub Basket. ”Ehm… Boleh ga kami numpang duduk disini?” tanyaku basa-basi pada Erick yang saat itu sedang santai-santai sambil mendengar musik.
“Tentu saja! Masa sih adik kesayangan pak kapten tidak boleh main disini! Duduk disebelahku, Rica sayang!” jawabnya ramah sambil membetulkan kursi disebelahnya.
“Ariessa Rislany! Bukan Rica! Emangnya makanan!” protesku sambil menggeser kursi yang tersedia untuk…
“Riessa!!! Jauh-jauh dari Erick!!! Pria itu beracun!!!” teriak Ka Ardon yang suaranya menggema dari ruangan bagian dalam. (Warning : Riessa panggilan sayang My Sweet Brother, Ka Ardon). Tentunya aku menggeser kursi untuk mencegah teriakan tadi, tapi…ya sudahlah…
Berusaha untuk tidak menghiraukan teriakan kakakku, seketika aku pun asik berbincang dengan pria tampan yang selalu berjaket biru itu. Dan Alice.
Lho?! Kenapa suara Alice tiba-tiba menghilang dari peredaran telingaku?! Menyadari hal itu aku memutar badanku kesegala arah untuk menemukan di mana Alice duduk. Dan aku segera menemukannya asik berbincang dengan seorang anggota klub basket bernama Gama.
Selama ini aku selalu tak sungkan bergabung dengan teman-teman kakak di klub Basket, karena aku akrab dengan mereka semua. Tapi Gama, aku tidak terlalu mengenalnya, bahkan aku belum pernah bertegur sapa dengannya. Gama terlihat dingin, pendiam dan tidak mudah akrab dengan orang lain. Aku jadi malas mendekatinya. Karena itu aku sedikit terkagum-kagum melihat kedua orang itu tiba-tiba ngobrol asik tanpa memperdulikan apapun disekitar mereka.

Hari-hari berikutnya sejak kejadian itu aku masih melihat kewajaran dalam diri Alice. Si Miss Pe-De ini terus menggoda Gama dengan daya tariknya. Alice yang biasanya, memang seperti itu bila sudah menangkap kelebihan tampang seorang pria. Dan aku akui komentar Alice benar, Gama punya wajah yang sangat manis apalagi dipadukan dengan kulit gelap dan matanya yang indah.
Tapi keadaan itu tak bertahan lama. Kira-kira satu bulan kemudian, aku mulai melihat gelagat aneh Alice didepan pria itu. Ia menunduk malu dan tak jarang salah tingkah setiap kali bertemu dengan Gama. Bahkan setiap Alice melihatnya dari kejauhan, ia selalu histeris malu-malu.

“Gama?! Oh, my God! Oh, my God! He’s so sweet!”

Komentar manis yang disertai dengan wajah memerah tentunya.
Perlahan tapi pasti, Alice mengakui bahwa ia menyukai Gama, bahkan perasaannya mungkin lebih dari sekedar suka.

“Ariessa!!!”
Alice berlari cepat kearahku yang sedang asik melamun sendirian di sekret klub Tari.
“Kenapa sih?” tanyaku bingung.
“Gama! Gama!” Alice mendesahkan nama pria itu pelan sambil mengatur nafasnya. “Manis! Manis banget! Dipadukan dengan topi dan jaket hitamnya. Hari ini dia manis banget!”
“Yee… Kirain kenapa” jawabku kecewa.
“Ar, kayaknya aku jatuh cinta deh sama dia!”
“Udah tau tuh!” kataku santai tak menghiraukan.
“Lho?! Kok reaksi kamu gitu sih?!”
“Ga usah kamu kasih tau, aku juga udah tau, Ne!”
“Aku kan baru kasih tau kamu hari ini, kenapa kamu bisa tau duluan?”
“Seorang Alice yang penuh percaya diri, riang, yang selalu mudah beradaptasi dengan siapapun, yang pintar, dewasa, bijaksana dan penuh wibawa. Dalam hitungan detik berubah menjadi Alice yang tidak aku kenal, yang pemalu, mudah gugup, selalu kehilangan kata-kata dan bertindak ceroboh setiap kali bertemu dengan manusia bernama Gama. Bukankah itu berarti ada sesuatu yang terjadi didalam dirimu?! Kalau bukan cinta, apalagi?!”
“Ariessa, terus aku harus gimana?” rengeknya cemas.
“Ya, ga harus gimana gimana! Tapi cuma satu hal yang bikin aku bingung. Apa kamu sudah tidak mencintai Arga lagi?!”
Alice terdiam, seolah tak ada kata yang dapat menjawab pertanyaan itu.

Arga, teman cowok Alice sejak Alice masih duduk di bangku SMP. Sebelum dilanda virus Gama, aku masih mendengar Alice bercerita tentang pria yang belum lama ini kembali dekat dengannya dan Alice pun mengaku sangat mencintainya. Namun semakin sering mereka bersama, semakin tidak jelas hubungan mereka. Alice yakin Arga juga mencintainya dari perhatian dan pengorbanan yang diberikannya selama ini, tapi Alice tidak pernah berhasil membuat Arga mengungkapkan perasaannya. Sampai akhirnya Alice mengeluh bosan.
Dan sejak kemunculan Gama, aku merasa perlahan sosok Arga mulai menghilang dari ingatan Alice, terlihat dari frekuensi Alice menyebutkan nama Arga yang kalah rekornya dengan nama pria pendatang baru itu (Gama pendatang baru didunia Alice, maksudku) . Bahkan tanpa ragu Alice meninggalkannya cinta yang tak pasti itu. Dengan kata lain, kali ini Alice benar-benar serius dengan perasaannya.

“Ka, Gama itu orangnya seperti apa sih? Baik ga? Dia udah punya pacar belum?”
“Riessa!!!” melongo aneh.
Reaksi kakakku sedikit membuatku tersentak kaget. Sedikit.
“Enggak! Kakak ga ijinin kamu jadian sama anak itu. Ga cocok tau! Kakak malah lebih setuju kalo kamu jadian sama Samuel, dia tuh baik, romantis, perhatian dan penyabar, cocok banget deh sama kamu”
Samuel?! Siapa?! Ga kenal!
Ah, sudahlah! Ga penting!
“Kakak, bukan aku tapi Alice”
Ka Ardon terdiam mendengar kata-kataku.
Aku mengerti dan memaklumi reaksinya kali ini, karena kakakku sempat mengagumi seorang Alice, tapi dia sudah punya Rini, apapun yang terjadi Ka Ardon tidak boleh melukai gadis pilihannya itu.
“Ka…” panggilku untuk menghentikan keheningan yang dibuatnya.
“Gama itu pria yang baik tapi dia sangat tertutup pada orang lain. Dia sudah punya pacar atau belum? kakak ga tau, karena seperti yang kakak bilang, dia sangat tertutup. Kayaknya sih belum. Tapi satu hal yang menarik dari Gama, sampai-sampai kakak ga bisa tidur dibuatnya, dia itu terlalu manis. Gama…Oooh…Gama…”
“Kakak… masih normal kan???”

Rasa suka Alice terhadap Gama membawa kebaikan lain, ia pun bertambah akrab dengan sebagian anggota klub basket. Mereka adalah nama-nama yang disebutkan Alice dalam suratnya. Bahkan Ka Ajie salah seorang alumni klub basket yang semula tidak dikenalnya sekarang sudah seperti kakaknya sendiri. Ini terjadi karena keinginan Alice sendiri yang awalnya berharap akan dapat mengorek keterangan tentang Gama dari mereka. Beberapa dari mereka setelah tahu hal itu tidak berdiam diri, mereka melakukan berbagai macam cara untuk memperdekat Alice dan Gama.
Salah satunya yaitu ketika suatu hari dari kejauhan aku menyaksikan Alice duduk berdua dengan Gama. Saat itu aku tersenyum bangga, aku pikir Alice ada sedikit kemajuan. Tapi tiba-tiba dari belakangku muncul Ka Ajie dengan senyum nakalnya yang ditujukan ke arah mereka. Entah apa yang telah dilakukan Ka Ajie, tapi aku sangat berterimakasih atas usahanya sehingga seorang Gama yang sangat disukai Alice saat itu juga duduk dan tersenyum manis didekatnya.
Semakin hari baik sengaja maupun tidak disengaja, keajaiban selalu datang mempertemukan Gama dan Alice. Alhasil, hubungan mereka berdua semakin dekat. Tapi satu hal yang tidak pernah sekalipun berhasil diatasinya adalah bersikap tenang didepan Gama.
Dengan dukunganku dan yang lain, Alice menumbuhkan tekad suatu saat akan menyatakan perasaannya pada Gama. Selain itu Alice selalu mewujudkan perasaan sayang dan perhatiannya kepada Gama tanpa henti. Sekaleng Pocari yang selalu diberikannya sehabis latihan rutin adalah salah satunya. Itulah yang membuat kami bangga. Alice selalu berusaha dan tidak pernah menyerah. Aku semakin semangat membantu Alice.

“Satu tiket aku hadiahkan untukmu. Filmnya bagus lho!”
“Malas ah, nonton sendirian”
“Ya, enggaklah. Aku, Floren, Febrian dan Ka Ardon juga ikut. Kita ketemuan jam 7 di depan Mc D. Oke!”

Tiket itu hanya alasan agar Alice dapat kencan berdua dengan Gama. Dengan bantuan Ka Ardon, satu tiket lagi sudah berada ditangan Gama. Dan aku yakin Alice tidak akan mengecewakan pengorbanan kami. Dia pasti menyatakan perasaannya malam itu.
Tapi kenyataan berkata lain. Hari itu juga Alice kehilangan semangat dan tekadnya. Alice merasa tidak lagi memiliki harapan untuk meraih cintanya itu.

“Apa?! Jadi semalam kamu ga ngomong apa-apa ke dia?” marah Ka Ardon.
Alice hanya menggeleng pelan dengan penuh penyesalan.
“Biar aku pergi tanpa pernah dia tahu perasaanku” ucapnya sendu dengan mata berkaca-kaca.
“Apa?!” tanya Ka Ardon kesal.
“Pergi?! Pergi kemana maksudmu?!” tanyaku melanjutkan pertanyaan Ka Ardon.
“Aku harus meninggalkan kota ini, selamanya”
Pernyataan Alice saat itu juga membuatku dan Ka Ardon tak sanggup berkata-kata.

Karena beberapa hal, orangtua Alice memutuskan untuk kembali ke kota asal mereka di Manado dan meninggalkan kota yang telah menghidupi mereka selama 6 tahun ini. Alice tidak dapat menolak keputusan itu, karena bagaimana mungkin Alice dapat tinggal di kota ini tanpa kedua orangtuanya.

“Tapi kamu harus menyatakan perasaanmu!”
“Buat apa?! Toh aku akan pergi!”

Rencana keberangkatan Alice membuat semuanya berakhir. Hari-harinya menjelang keberangkatannya pun diwarnai dengan kesedihan. Dan Alice memutuskan untuk mundur sebelum sempat maju ke garis start. Teman-teman pun tidak dapat berbuat apa-apa setelah mendengar rencana kepergiannya itu. Tapi tidak bagiku.

Aku akan membuktikan bahwa masih ada harapan.
“Dibalik kisah ini tersimpan sebuah harapan dari sebait doa tulusku. Tidak ada yang tidak mungkin terjadi sekalipun itu hanya sebuah kisah dongeng. Nah, gimana kalau novel itu kamu baca dulu sebelum kamu berangkat!”
Sedikit malas ia membuka lembaran pertama. Tentu saja, karena membaca bukanlah salah satu dari hobinya. Tapi yang satu ini dia pasti suka.
Aku terus memperhatikannya membaca dengan serius, sesekali ia tersenyum, sesekali ia menatapku kesal. Tak sabar ingin mengetahui akhir kisah itu, ia tiba-tiba menutup buku itu dan membukanya kembali dari belakang. Di tariknya nafas dalam-dalam dan dibacanya halaman terakhir dengan penuh harap.

Di depan gerbang sekolah.
Setelah Alice menyatakan perasaan yang selama ini dipendamnya dalam-dalam kepada pria manis bernama Gama. Alice akhirnya melangkahkan kakinya pelan kearah Taksi Bandara yang menjemputnya tanpa berani mengharapkan jawaban dari Gama. Tiba-tiba langkah Alice bertambah berat. Ia tahu alasannya, hatinya butuh jawaban namun ia tak berani kembali untuk bertanya, ia pun tak sanggup berhenti sesaat untuk menunggu.
“Gama, seandainya kamu berkata ‘iya’ tanpa ku bertanya. Aku akan melangkah kembali dan membatalkan keberangkatanku saat ini juga sekalipun tanpa seizin Mama” tekad Alice dalam batinnya.
Tapi sekali lagi dan mungkin untuk yang terakhir kalinya Alice mengubah tekad dalam batinnya.
“Ah, sudahlah! Mungkin ini jalan yang memang harus aku pilih, yaitu meninggalkanmu”
Alice menatap pintu taksi yang terbuka lebar tepat didepannya. Ditariknya nafas dalam-dalam sebelum melangkahkan kakinya masuk ke dalam taksi. “Selamat tinggal, Jakarta!”
“Alice!!! Kembali!!!”
Perintah tegas yang tiba-tiba keluar dari mulut Gama seketika membuat Alice menghentikan gerak tubuhnya. Namun Alice tidak membalikkan tubuhnya, ia hanya terdiam kaget, tak percaya dengan suara yang baru saja didengarnya. Gama memintanya kembali.
“Alice… Aku akan mengatakan ‘aku mencintaimu’ jika itu dapat membuatmu tidak meninggalkan Jakarta selangkahpun! Kamu harus tetap disini! Alice… Jangan pergi! Aku tidak ingin kehilangan kamu!”
Tanpa disadari, airmata Alice telah mengalir melewati bibirnya.
“ALICE…. AKU JUGA MENCINTAIMU…. AKU SANGAT MENCINTAIMU….”
Tiba-tiba pelukan hangat mendarat ditubuh Alice. Alice menemukan wajah cantik mamanya yang memeluknya dengan mata berlinang.
“Nak, jangan pernah melakukan sesuatu dengan keraguan! Tentukan pilihanmu sekarang! Tinggallah disini, jika menurutmu itu yang terbaik!”
Alice tersenyum bahagia menatap sang mama yang akhirnya mengizinkannya tinggal di Jakarta lebih lama lagi.
“Pergilah, Nak!!! Temui pangeranmu!”
Segera, Alice membalikkan badannya, menatap lekat kearah Gama yang berdiri membelakangi teman-temannya yang lain. Dilihatnya kedua tangan Gama bergerak terbuka lebar, seolah mengundang Alice untuk segera mengisi pelukannya. Dan Alice mengerti isyarat itu. Gama bersedia membalas cintanya.
Berlari, Alice menghampiri pria yang tersenyum manis itu dan meraih uluran tangannya. Memeluknya dengan penuh kehangatan.

Ia menutup buku itu setelah selesai membaca akhirnya. Tanpa ia sadari airmata telah memenuhi wajahnya yang putih bersih. Ia menatapku dengan senyum haru dan menarikku kepelukannya, sesaat namun erat.
“Seandainya saja kisah itu dapat terwujud”
“Karena itu, jangan katakan tidak. Kamu harus menyatakan perasaanmu padanya! Karena tidak ada yang tidak mungkin” aku mendorong Alice masuk ke ruang klub Basket. “Katakan sekarang juga! Aku tahu kamu bukan gadis lemah yang gampang menyerah pada keadaan, Alice”
“Tapi, Ar, aku takut, bagaimana kalau dia…”
“Alice. Now or never!”
Alice dengan wajahnya yang pucat memasuki ruangan. Sesaat kemudian semua penghuni ruangan kecuali Gama meninggalkan ruangan itu, sebagian dari mereka yang tah permasalahannya menemaniku diluar. Aku berdiri cemas didepan pintu ruangan itu, sesekali kupekakan telinga agar terdengar pembicaraan mereka.
“Hei, kenapa kalian berdiri di depan pintu? Ayo kita ma…”
Aku menarik tubuh Ka Ardon menjauhi pintu masuk ruangan itu.
“Ka, Gama dan Alice didalam” bisikku.
“Berarti, novel yang kamu buat berhasil meyakinkan Alice untuk mengungkapkan perasaannya?”
Aku tersenyum mengiyakan.
“Kamu memang adikku yang paling hebat!” pujinya sambil mengelus rambut panjangku.
Pujian Ka Ardon mengakhiri kebisingan tempat itu, sesayup kalimat terdengar dari dalam ruangan. Kalimat yang membuat kami semua tercengang kaget.
“Aku sangat senang mendapatkan perhatianmu selama ini, tapi saat ini bukan kamu gadis yang aku sukai. Aku tidak bisa membalas rasa sukamu”
Jawaban Gama atas pernyataan Alice.
Sesaat kemudian Alice berlari keluar dari ruangan klub sambil menangis.
Sebuah kisah yang telah menumbuhkan kembali semangat Alice, ternyata hanya sebatas goresan pena. Kenyataannya tidaklah seindah itu. Keadaan saat itu malah semakin memburuk dan semuanya karena aku, karena semangat salah yang telah aku berikan. Keputusan semula Alice benar, sebaiknya tak usah dikatakan, dan aku telah menghancurkan segalanya. Bahkan sampai saat ini aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.

“Sudahlah, Ariessa, jangan menangis!”
“Tapi ini semua gara-gara aku!”
“Tidak ada yang perlu dipersalahkan. Kamu benar karena telah membuatku kuat. Apapun yang terjadi, aku tidak peduli, yang penting kini aku merasa lega, aku telah mengungkapkan perasaanku padanya, dan aku berhasil melakukannya karena kamu”
“Tapi kan…”
“Sudahlah, jangan buat aku semakin sedih”

Alice pun meninggalkan Jakarta dengan membawa luka hatinya. Tak seorang pun dari kami diijinkannya untuk mengantar sampai bandara, dia tidak ingin kami melihatnya menangis.
Tapi kami yakin suatu hari nanti Alice mampu melupakan Gama dan menyimpannya hanya sebagai kenangan. Sekaranglah bukti nyata Alice telah mendapatkan seseorang pengganti Gama dihatinya.
Tersenyum sejenak, aku kembali membuka lipatan surat itu dan melanjutkan membaca kalimat selanjutnya. Dan aku dikejutkan dengan kata-kata lanjutannya.

Tentu saja kamu tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang. Karena dia ada disini bersamaku.

“Apa?! Tidak mungkin!!!”
Akhir-akhir ini aku memang tidak lagi mendengar kabar Gama. Yang terakhir kudengar dari Ka Ardon, sekarang ia sudah menyelesaikan kuliah S1 nya dan bekerja berpindah-pindah dari kota satu ke kota yang lain. Tapi, apa ini jawaban atas ketulusan cinta Alice untuknya selama ini?

Setibanya aku di Biak, aku bekerja di toko roti milik mamaku. Dalam waktu singkat toko roti itu mempunyai banyak pelanggan dan kelezatannya terkenal diseluruh pelosok kota ini. Toko roti ini pula yang 4 tahun kemudian mempertemukan aku dengan Gama. Gama dipindah tugaskan ke Biak, suatu hari dia melihatku didepan toko dan tanpa ragu menemuiku. Alhasil, perasaan ini dimulai kembali. Tapi kali ini bukan hanya perasaan sepihak, karena kami sudah bertunangan.
Semua ini juga karena kamu, Ariessa. Harapan yang kamu goreskan dalam kisah itu, memberikanku kekuatan untuk tidak berputus asa. Karena tidak ada yang tidak mungkin.
Nah, bagaimana dengan kamu? Kapan aku akan membaca surat cintamu? Aku sangat menantikannya.

Surat cintaku?! Aku sendiri tidak tahu kapan akan kukirimkan. Karena aku belum merasakan cinta seindah yang kau rasakan saat ini, Alice.
“Hiks hiks hiks… Gama dan Alice sudah bertunangan. Lalu bagaimana denganku. Huaaaaa…Alice…”
Lho?! Ternyata kakakku ikut membaca dibelakangku dan dia berteriak histeris setelah mengetahui kabar bahagia itu.
Setelah pisah dari Rini dua tahun yang lalu sepertinya Ka Ardon berharap suatu saat akan mendapatkan cinta Alice, tapi sayang sudah terlambat.
“Riessa… tinggal kamu seorang yang bisa mendampingi kakakmu yang malang ini! Jangan tinggalkan kakak ya, sayang!” pintanya sambil memelukku erat-erat.
“Pos!!!”
Kami terhentak kaget mendengar suara pak pos yang kali ini melengking aneh.
Aku segera menghampiri si tukang pos yang datang untuk kedua kalinya itu.
“Lho, pak?! Kok datang lagi?! Ada yang tertinggal?”
“Ada satu surat lagi untuk Nona Ariessa! Ditambah dengan setangkai mawar merah ini” jawab pria itu sambil menyerahkan surat beramplop merah muda serta setangkai mawar merah.
“Dari siapa, pak? Kok ga ada perangkonya?”
“Dari aku!”
Seorang pria berpakaian rapi dengan jaket birunya tiba-tiba muncul dihadapanku.
“Masih ada kesempatan untukku mencintaimu, Rica?”
“Erick?!”
“Didalam surat itu aku mengabadikan cintaku dan menunggu balasan darimu…”
Aku menatap Erick sedikit bimbang. Berawal dari kebetulan kami melanjutkan di universitas yang sama hubungan kami semakin dekat. Sampai saat ini aku sangat mencintainya tapi dia tidak pernah memberiku kepastian tentang ungkapan perasaanku selama ini.
Beberapa minggu yang lalu aku memutuskan untuk melupakannya. Karena aku pikir selama 5 tahun ini aku hanya terlalu melebih-lebihkan sikap manisnya padaku. Tapi sekarang dia tiba-tiba datang padaku. Mengucap kata yang selama ini aku nantikan. Apa aku punya keberanian untuk menolaknya?
“Ariessa Rislany! Bukan daging Rica-Rica! Tapi aku senang hanya kamu yang memanggilku seperti itu” senyumku penuh arti. “Masuk! Kita ngobrol didalam”
Alice, mungkin pria ini yang suatu saat nanti akan kutuliskan namanya didalam surat cintaku untukmu.
Mengiringi langkah Erick memasuki ruang tamu, aku tersenyum nakal penuh arti kepada pria sister complex (pecinta adik sendiri) itu.
“Oh, tidak!!! Erick, sekali lagi aku peringatkan!!! Jangan rebut adikku!!!”
“Siapa elu nyuruh-nyuruh gua?!” balas Erick tersenyum riang.

♥ TaMaT ♥

Mencari

By, Ressa Novita (Ocha)

Tiap langkah kumencari
Lelah mendaki
Beralas api menelusuri
Tuk segenggam debu yang berarti

Namun kecewa kudapati
Hanya ada debu tak berjiwa dan mati
Setinggi gunung kukantungi
Tak membuatku hidup barang sehari

Bukan hanya sekali
Sampai jenuh kumemaki
Menumpah ruah gejolak hati
Ternyata tak ada yang abadi

Yang kukejar dengan airmata
Malah lari menghindar

Yang datang tanpa kuundang
Pergi dan tak kembali

Seolah hidup ini hanya waktu sesaat
Untuk berbagi lalu lekas pergi
Tak perlu rasa untuk mengenang
Tersisa pahit tuk diingat

Aku masih mencari
Masih akan membuat alami
Yang datang biarlah datang
Yang pergi bergegaslah pergi

Hanya sebelum nafasku berakhir
Aku ingin ada untukku
Mengungkap hati
Yang benar abadi